Petugas BPJS menunjukkan kartu keanggotaan BPJS Kesehatan. Foto: MI/Ramdani
Petugas BPJS menunjukkan kartu keanggotaan BPJS Kesehatan. Foto: MI/Ramdani

PB IDI: Penggunaan Teknologi 4.0 dapat Tekan Defisit BPJS Kesehatan

Nasional BPJS Kesehatan
Rifaldi Putra irianto • 07 September 2019 04:00
Jakarta: Pengurus Besara Ikatan Doktor Indonesia (PB IDI) menyarankan pemerintah untuk segera melirik industri teknologi 4.0 dalam bidang kedokteran. Ini dipercaya dapat menyelesaikan pembengkakan defisit BPJS Kesehatan yang diperkirakan akan mencapai Rp 77,8 triliun pada 2024.
 
Ketua Bidang Advokasi Lembaga Legislatif PB IDI, Mariya Mubarika mengatakan, perkembangan teknologi saat ini, harus dapat dimanfaatkan pemerintah dalam pelayanan kesehatan.
 
"Kalau kita lihat kenapa masyarakat banyak yang memilih berobat di luar negeri, di sana (India) biaya operasi bypass cuman Rp10 juta, di Indonesia itu bisa seharga dua mobil Innova mungkin sekarang," kata Mariya Mubarika, di Kantor PB IDI, Jakarta, Jumat, 6 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebutkan salah satu penyebab perbandingan harga yang sangat signifikan tersebut dikarenakan industri teknologi 4.0 pada bidang kesehatan yang masih sangat kurang. Menurut dia, pemanfaatan teknologi akan membuat murah sebuah pelayanan perawatan kesehatan.
 
"Dan juga pastinya jauh lebih baik dan harganya lebih murah perawatan jantung dan lain-lain itu kalau dengan teknologi itu malah lebih murah, " jelasnya.
 
Ia mengatakan, pemerintah harus segera bergerak ke teknologi 4.0 di bidang kedokteran ini untuk menghindari pembengkakan defisit BPJS Kesehatan yang diperkirakan akan terjadi pada 2024 mendatang.
 
"Kita (PB IDI) sudah menemukan formulanya, kita ingin sekali itu pemerintah memahami ini. yang kita butuhkan hanya keberpihakan regulasi dari pemerintah untuk perubahan ini," sebutnya.
 
Ia juga menyebutkan, bila hal ini dapat diterapkan di Indonesia nantinya tak hanya dapat membantu menurunkan harga biaya kesehatan untuk masyarakat, melainkan juga dapat memberikan pemasukan dana tambahan dari sektor kesehatan.
 
"Jadi berdasarkan data pada tahun 2015 waktu APBN kesehatan kita Rp65,9 triliun, belanja kesehatan kita ke luar negeri itu Rp161 triliun pertahun. Tujuan utamanya 80% ke Malaysia, ini hanya data orang Indonesia berobat keluar loh, belum medical tourism. Jumlah sebanyak itu lumayan lah ini kalau masyarakat enggak berobat keluar, defisit BPJS kita bisa ditutup dengan ini," pungkasnya. (Media Indonesia)
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif