Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.

Pemerintah Harus Mewaspadai Jaringan Terorisme Berkedok Bisnis

Nasional terorisme radikalisme
Nur Azizah • 12 Juli 2019 11:54
Jakarta: Pengamat Teroris Al Chaidar menyebut jaringan terorisme masa kini berkembang dengan beragam cara. Satu di antaranya berkedok jaringan bisnis.
 
"Kalau menurut ahli terorisme Bruce Hoffman ini (modus bisnis) namanya intellectual violence. Ini sangat brutal dan harus diwaspadai pemerintah," ujarnya di Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Jaringan teroris ternyata juga menyusup lewat sektor pariwisata dan politik. Tindakan-tindakan teroris yang masuk ke ranah sosial menurutnya akan jauh lebih sulit dideteksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi memang harus sangat diwaspadai karena berkembangnya melalui kelompok seperti ini," lanjut dia.
 
Baca juga:Teroris 'Menyelundup' Lewat Politik
 
Chaidar mengatakan cara-cara seperti itu merupakan modus baru. Gaya tersebut berkembang setelah Para Wijayanto mengambil alih kepemimpinan Jamaah Islamiyyah (JI) dari Abu Bakar Ba'asyir pada 2007.
 
"2007 boleh dikatakan Para Wijayanto dan jemaahnya memiliki pengajian yang tak biasa, layaknya korporasi dan memiliki aset yang banyak," ujar dia.
 
Tak main-main, kata Chaidar, aset-aset yang dikumpulkan dicuci untuk kemudian digunakan dalam bentuk bisnis. Hingga kini, bisnis tersebut menjadi salah satu sumber pendanaan jaringan kelompok radikal.
 
"Sampai sekarang mereka bergerak pelan dan hasil bisnis itu mereka manfaatkan untuk operasi jihad," pungkas dia.
 
Baca juga: Operasi Penangkapan Ali Kalora Diperpanjang
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif