Aksi Diam 700 Hari Setelah penyerangan Novel Baswedan di Gedung KPK. Foto: MI/Bary Fathahilah.
Aksi Diam 700 Hari Setelah penyerangan Novel Baswedan di Gedung KPK. Foto: MI/Bary Fathahilah.

Polisi Masih Cari Pelaku Kasus Novel

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 13 Maret 2019 20:35
Jakarta: Sudah 700 hari kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, pelaku tak kunjung ditangkap. Polisi masih terus mencari pelaku tersebut.
 
"Itu masih dalam pengejaran kita," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 13 Maret 2019.
 
Untuk mengungkap kasus itu, polisi telah membentuk Satuan Tugas (satgas). Argo mengatakan, tim satgas tersebut sudah bekerja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Satgas sudah bekerja. Kita tunggu saja perkembangannya," ungkap Argo.
 
Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017. Lokasinya hanya berjarak 10 meter dari kediaman Novel di Jalan Deposito T Nomor 8 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
 
Baca juga: Peringatan 700 Hari Kasus Novel Baswedan Mangkrak
 
Saat itu, Novel baru saja salat Subuh berjemaah di Masjid Al-Ihsan yang berjarak lima rumah dari kediamannya. Selesai salat, dia mengikuti wiridan tetapi tak sampai tuntas. Dia pamit duluan.
 
Ketika berjalan pulang, Novel diampiri dua pengendara motor. Laju motor pelan. Sambil melihat wajah Novel, orang yang dibonceng menyiramkan air keras ke wajah Novel.
 
Mangkraknya kasus Novel ini membuat berbagai pihak geram. Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi menuntut tiga hal.
 
Baca juga: Tiga Tuntutan 700 Hari Kasus Novel Baswedan
 
Tiga tuntunan dari koalisi ini pertama, Presiden Republik Indonesia segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen melalui Keppres. Di mana anggota TGPF terdiri dari para ahli, tokoh dan praktisi yang kompeten dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
 
Kedua, KPK segera menindaklanjuti laporan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi mengenai dugaan perintangan penyidikan (Obstruction of Justice) dalam perkara penyiraman air keras terhadap Novel dan teror terhadap pegawai KPK lainnya.
 
Tuntutan terakhir, kepolisian harus menghormati pembentukan TGPF independen oleh Presiden RI dan penyidikan dugaan perintangan penyidikan (Obstruction of Justice) oleh KPK. Terutama, mau bekerja sama secara penuh melakukan pengungkapan kasus tersebut.
 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif