Pengamat terorisme Ridlwan Habib. (Foto: MI/Rommy Pujianto)
Pengamat terorisme Ridlwan Habib. (Foto: MI/Rommy Pujianto)

Lokasi Kelompok Ali Kalora Lebih Mudah Dijangkau

Nasional terorisme
02 Januari 2019 14:42
Jakarta: Pasca-kematian Santoso; pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok teroris yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, semakin tak bergigi. Jaringan teroris yang kini diambilalih oleh Ali Kalora tak mengalami perkembangan berarti.
 
Pengamat Terorisme Ridlwan Habib bahkan menyebut lokasi kelompok Ali Kalora pun cenderung lebih mudah dijangkau oleh Satuan Tugas Tinombala. Basis lokasi yang sebelumnya berada di Tamanjeka kini beralih ke Parigi Moutong.
 
"Parigi Moutong secara geografis jauh lebih mudah diserbu karena vegetasi hutannya tidak sedalam Tamanjeka," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Rabu, 2 Januari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ridlwan mengatakan basis Ali Kalora saat ini lebih dekat dengan ladang dan permukiman warga. Andai petugas gabungan TNI dan Polri serius melakukan penyergapan barangkali hanya perlu satu atau dua bulan untuk menangkap seluruh anggota kelompok Ali Kalora.
 
Ketiadaan dukungan berikut dengan jumlah anggota kelompok yang hanya sekitar tujuh orang, kata Ridlwan, membuat Ali Kalora tak memiliki banyak kekuatan. Terlebih kerapatan pepohonan di Parigi Moutong yang tak sepadat Tamanjeka membuat kerja Satgas Tinombala tak memerlukan bantuan pasukan khusus seperti sebelumnya.
 
"Parigi Moutong ini dekat ladang kalau pun mereka lari enggak akan terlalu dalam hutannya," kata dia.
 
Menurut Ridlwan kelompok Ali Kalora secara jaringan sudah ditinggalkan oleh kekuatan pusatnya. Bahkan telah dikonfirmasi oleh kepolisian bahwa senjata yang digunakan sebagaimana serangan terhadap dua anggota kepolisian saat evakuasi mayat warga yang termutilasi di Parigi adalah sisa-sisa 'kejayaan' Santoso.
 
Pun dengan keberadaan simpatisan, Ridlwan meyakini jumlahnya terlampau kecil. Bahkan tak menutup kemungkinan para simpatisan merupakan warga setempat yang tidak mengetahui bahwa kelompok tersebut merupakan buronan polisi.
 
"Bisa saja warga tidak tega ada orang tidak makan atau butuh bantuan. Apalagi di dusun ini mereka kurang informasi mungkin tidak tahu barangkali tidak sadar yang mereka bantu itu buron dan menganggap orang tersebut tersesat lalu diberi makan seadanya," ungkapnya.
 
Baca juga: 'Jihad' Ali Kalora Tak Lagi Relevan
 


 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif