Bambang Widiyatmoko, peneliti bidang Instrumentasi Kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI bersama miniatur alat peringatan dini tsunami Laser Tsunami Sensor, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Bambang Widiyatmoko, peneliti bidang Instrumentasi Kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI bersama miniatur alat peringatan dini tsunami Laser Tsunami Sensor, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Pengembangan Alat Peringatan Dini Tsunami Terkendala Dana

Nasional inovasi
Kautsar Widya Prabowo • 02 Januari 2019 19:13
Jakarta:Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan alat peringatan dini bencana tsunami di Indonesia, menggunakan Laser Tsunami Sensor (LTS) dengan jenis Fiber Bragg Grating (FBG). Proses pengembangan alat tersebut kini sudah mencapai 50 persen atau sudah memasuki tahap verifikasi konsep.
 
Bambang Widiyatmoko, peneliti bidang Instrumentasi Kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPImenjelaskan, dalam tahap tersebut terpaksa dihentikan. Lantaran belum mendapatkan suntikan dana.
 
"Untuk menjadikan prototipe membutuhkan dana Rp5 miliar, sudah dengan sensor dan uji coba di lapangan," ujar Bambang kepadaMedcom.id, di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu, 2 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alhasil pengembangan tersebut sempat tersendat-sendat sejak 2006, selepas ia menyelesaikan jenjang pendidikan S3 di Tokyo Institute of Technology. Beruntung saat ini ada mahasiswa yang kembali melanjutkan proyek tersebut.
 
"Karena susah mencari dana, 2007, 2008 berhenti, cari (penelitian) yang lain, sekarang mulai lagi 2018, enam bulan lalu ada mahasiswa yang tertarik melanjutkan," imbuhnya.
 
Baca:Pelibatan Riset dalam Mitigasi Bencana Belum Optimal
 
Meski alat tersebut masih dalam tahap pengembangan, namun sudah dianggap dapat mendeteksi gelombang tsunami, karena telah melalui percobaan sederhana yang ia lakukan di laboratorium LIPI.
 
Percobaan ia lakukan dengan merendam LTS di bak yang penuh air. Lalu diberikan tekanan dari satu bar hingga enam bar, setara gelombang tsunami dalam ketinggian 60 meter.
 
"Responnya linear, saya rasa secara prinsip teknik ini bisa digunakan pada tsunami sensor," terangnya.
 
Dari aspek teknologi, Bambang mengungkapkan LTS ini merupakan alternatif sistem peringatan dini tsunami selain Buoy. "Prinsip kerjanya adalah mengirim cahaya dari darat, kemudian ditembakkan ke dasar laut, lalu ada sensor di dalamnya yang akan kembali menembakkan cahaya tersebut ke pos pantau,” jelasnya.
 
Baca:BNPB Ajukan Pendirian Perguruan Tinggi Khusus Kebencanaan
 
Sensor ini ditempatkan dalam kabel fiber optik yang berada di dasar laut. Kabel fiber optik itu akan terhubung dengan pos pemantau yang akan memancarkan cahaya laser dari ujung kabel ke ujung kabel lainnya melalui sensor deteksi. “Ketika terjadi pergerakan air laut yang tidak biasa atau ada tekanan yang berubah, sensor deteksi akan membelokkan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya tsunami ke pos pemantau,” pungkas Bambang.
 

(CEU)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif