Pengawasan Calon TKI di NTT Lemah
Ilustrasi. Foto: Antara/Rekotomo
Jakarta: Pengawasan terhadap calon tenaga kerja Indonesia (TKI) di Nusa Tenggara Timur dinilai masih lemah. Maraknya kasus human trafficking di NTT, diduga karena lemahnya pengawasan aparat hukum setempat.
 
Direktur Ekskutif Migrant Care Wahyu Susilo menduga ada aparat pemerintah dan aparat penegak hukum yang terlibat dalam praktik perdagangan gelap manusia atau human trafficking.
 
Padahal praktik human trafficking dengan mengirimkan TKI ke negara tetangga seperti Malaysia sangat berisiko tinggi. Dari data tahun 2017, tercatat ada 62 TKI asal NTT yang tewas di Malaysia. Salah satu faktor penyebabnya adalah insiden kecelakaan kapal karam yang mengangkut TKI ilegal.

Baca: 62 TKI asal NTT Tewas di Malaysia Sepanjang 2017 

"Tahun 2014 Kadisnaker Kupang ditangkap terlibat human trafficking. Tahun 2015 Brigadir Rudi Soik dikriminalisasi karena membongkar keterlibatan perwira Polda NTT dalam melindungi bisnis human trafficking," kata Wahyu kepada Medcom.idKamis, 15 Februari 2018.
 
Sebelumnya, TKI asal NTT Adelina Lisao meninggal di Penang, Malaysia. Adelina diduga tewas disiksa majikannya. Adelina sempat dirawat di RS Bukit Mertajam namun nyawanya tak tertolong. Adelina meninggal pada Minggu 11 Februari 2018.
 
"Saya lebih menganggap Adelina adalah korban perdagangan manusia, dalam realitas praktik human trafficking," kata Wahyu.






(FZN)