Menteri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Bintang Puspayoga. Foto: MI/Rifaldi Irianto)
Menteri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Bintang Puspayoga. Foto: MI/Rifaldi Irianto)

Menteri PPPA Sebut Pemahaman Kesetaraan Gender Masih Belum Tercapai

Nasional pembangunan Hari Kartini hak perempuan Kualitas SDM
Juven Martua Sitompul • 23 April 2021 23:57
Jakarta: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menilai pemahaman pentingnya kesetaraan gender belum sepenuhnya tercapai. Hal ini terlihat dari masih banyaknya perempuan yang mengalami diskriminasi, stigmatisasi, stereotip, bahkan kekerasan.
 
Padahal, kata dia, berkat perjuangan Kartini dan juga pahlawan perempuan lainnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki diakui. Bahkan diamanatkan konstitusi UUD 1945, saat ini perempuan dapat sekolah, berpendapat di ruang domestik maupun publik, dan dapat menjadi pemimpin dalam berbagai sektor.
 
"Pemahaman kesetaraan gender masih belum populer dibandingkan konstruksi sosial patriarki yang telah dipercaya secara turun temurun. Untuk mengatasinya, diperlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, dunia usaha, kelompok masyarakat maupun media untuk mematahkan konstruksi sosial patriarki tersebut," kata Bintang dalam gelar wicara 'Peringatan Hari Kartini Cerita Sukses Perempuan Indonesia Menggapai Cita' yang diselenggarakan secara hybrid oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bekerja sama dengan Pimti Madya Perempuan Indonesia, Jumat, 23 April 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan sosok perempuan bisa menciptakan gelombang perubahan besar. Maka bisa dibayangkan apabila 49,42 persen perempuan dari 270,2 juta jiwa penduduk Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai potensinya dan membuat berbagai perubahan dalam kesetaraan gender.
 
"Nyatanya hal ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kelompok perempuan saja tetapi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Untuk itu, perjuangan meraih kesetaraan gender seharusnya merupakan urusan bersama. Konsep kesetaraan gender pun kini menjadi salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs," kata dia.
 
Menurut Bintang, tiap perempuan adalah advokat terbaik bagi masalahnya sendiri. Dia mengatakan perjuangan mencapai kesetaraan tentunya juga diperlukan dukungan penuh dari perempuan, sebagai kelompok yang paling mengetahui permasalahan dan solusi yang terkait dengan dirinya.
 
Sementara itu, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan kaum perempuan, khususnya ibu, memiliki peran kuat dalam mewujudkan bangsa yang tangguh dengan sumber daya manusia unggul. Ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas SDM. Apalagi, literasi menjadi modal dalam menciptakan SDM yang mampu berkompetisi secara global.
 
Baca: Perempuan Indonesia Didorong Ambil Peran di Tengah Pandemi
 
Kepala Perpusnas menegaskan dukungannya untuk menguatkan peran perempuan dalam membangun bangsa melalui literasi. Kondisi literasi Indonesia masih harus diperbaiki, terutama pada sisi hulu. Di sisi hulu, peran negara, yakni legislatif, eksekutif, yudikatif, TNI-Polri dibutuhkan dalam membuat kebijakan untuk mengatasi distribusi dan produksi buku yang belum ideal dan anggaran.
 
"Nah sekarang hadir kita dari sisi hulu adalah peran negara, ada legislatif, ada eksekutif, yudikatif, TNI-Polri, para civitas academica hadir dari perguruan tinggi. Banyak perempuan perempuan Indonesia menjabat sebagai Rektor, Wakil Rektor, dekan, dan sebagainya. Kita semua adalah orang-orang yang dituntut untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa ini," kata Syarif.
 
Perpustakaan sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan mendukung terwujudnya masyarakat berliterasi tinggi melalui transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Di perpustakaan, masyarakat, khususnya kaum perempuan, diajarkan dan didampingi untuk menerapkan konten dari buku-buku ilmu terapan. Pendampingan keahlian diberikan untuk membentuk jiwa wirausaha demi meningkatkan kesejahteraan.
 
"Perpustakaan Nasional melalui transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial sejak 2018 sampai sekarang ini, sudah mampu menuliskan testimoni dari ribuan masyarakat yang tadinya pengangguran terbuka karena sudah bisa punya usaha dengan perpustakaan, belajar internet dan penyediaan buku buku ilmu terapan," tegas dia.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif