Karding: Diksi 'Tabok' adalah <i>Warning</i>
Juru bicara TKN KIK Abdul Kadir Karding/Medcom.id/Arga Sumantri
Jakarta: Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) Abdul Kadir Karding memahami diksi 'tabok' dari Presiden Joko Widodo, sebagai ajakan. Menurut Karding, Jokowi melontarkan pernyataan itu supaya tak ada lagi fitnah dan hoaks.

"Jadi pernyataan beliau itu warning  kepada kita semua. Agar stop hoaks, fitnah dan lainnya," kata Karding saat dihubungi, Jumat, 23 November 2018.

Ia mengamini bahwa pernyataan Kepala Negara itu sangat keras dan tegas. Sikap ini tak bisa dipisahkan dari dampak hoaks dan fitnah itu sendiri. Sebab hal tersebut bisa berakibat buruk bagi kehidupan sosial dan persatuan bangsa.


Lebih lanjut ia menyebut, Jokowi merasa dirugikan dengan fitnah dan kebohongan yang tersebar. Misalnya terkait Joko Widodo dengan label antek Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Padahal saat partai itu berkuasa, dirinya baru berusia empat tahun. Sehingga Karding menyebut, Jokowi tak mau merugi atas sesuatu yang tak diperbuatnya. 

"Isu Hoaks, telah mengakibatkan sebagian orang percaya, bahwa tuduhan semisal PKI, anti Islam, antek Asing adalah sesuatu yang benar. Ini merugikan beliau sebagai pribadi," imbuh Karding.

Terakhir, ia melihat presiden sudah merasakan hoaks yang keterlaluan. Hal ini tak bisa lagi ditoleransi dan harus segera ditindak. Sebab dampaknya sangat kompleks.

"Karena bisa merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Budaya jujur, budata persatuan, kebersamaan, persaudaraan dan sudah bisa memecah bangsa," tandas Karding.



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id