UNBK Perlu Evaluasi Menyeluruh
Ilustrasi ujian nasional berbasis komputer. Foto MI Susanto
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) disarankan mengevaluasi menyeluruh pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) secara personal, kelembagaan, teknologi, dan konten yang diujikan. Tujuannya, agar permasalahan yang terjadi tidak terulang di tahun berikutnya.
 
Perlunya evaluasi disampaikan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan UNBK antara lain keluhan sulitnya soal mata pelajaran yang diujikan kepada para peserta.
 
Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Fahriza Marta Tanjung menyatakan mengapresiasi terobosan Kemendikbud dalam menyelenggarakan UNBK hingga tahun ketiga ini. Sebab, dengan pemanfaatan sistem informasi dan teknologi, dapat memutus masalah klasik seperti kebocoran soal dan munculnya kunci jawaban.
 
Meski demikian ia menilai pelaksanaan UNBK tidak semakin baik, terutama pada tahun ini. Sebab, terjadi banyak kendala serius. "Kami mempertanyakan peran dan fungsi yang dimainkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud. Mengapa soal-soal UNBK tahun ini begitu sulit, tidak sesuai dengan yang diajarkan dan apa yang diperoleh oleh siswa di sekolah," kata Fahriza dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 28 April 2018.

Baca: Spesifikasi Teknologi Pendukung UNBK Ketinggalan Zaman

Fahriza juga menilai ada masalah serius yang justru ditanggapi enteng oleh Kemendikbud. Anatar lain terkait dengan pernyataan Mendikbud Muhadjir Effendy yang menyatakan bahwa siswa pembocor soal akan mendapatkan nilai nol. Padahal, menurutnya, umber kebocoran soal itu belum diketahui dengan jelas. "Banyak hal prinsip yang harus dievaluasi," katanya.
 
Terkait dengan sulitnya soal mata pelajaran yang diujikan, Wakil Sekjen FSGI lainnya, Satriwan Salim, berpendapat ada salah pemahaman antara pembuat soal dengan konsep higher order thinking skill (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi yang ada dalam soal-soal UNBK. Menurutnya, dalam soal mata pelajaran matematika yang diujikan untuk siswa SMP, sebenarnya bukan lagi aplikasi HOTS, tetapi sudah menjadi soal dengan tingkat Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI-KD) yang lebih dalam dibandingkan KI-KD yang ada pada tingkat SMP.
 
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan terkait soal matematika dan bahasa Inggris yang pada UNBK tingkat SMP/sederajat dikeluhkan karena sulit.
 
Latih guru
 
Dengan akan dilanjutkannya konsep HOTS pada UN tahun berikutnya, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bidang Elektronik dan Otomotif (BOE) Malang, Jawa Timur, siap melatih para guru dalam memberi materi pembelajaran model HOTS.
 
Kepala Pusat P4TK Sumarno mengatakan, mendidik generasi anak zaman sekarang membutuhkan guru yang berkemampun kritis, kreatif, dan inovatif. "Tugas guru dalam mengajar bisa tergantikan oleh kemajuan IT seperti internet atau gawai, namun tidak tergantikan dalam mendidik siswa yang mengharuskan guru terampil dan kreatif memotivasi siswa dalam pembelajaran termasuk model HOTS," katanya.
 
Dari Surabaya dilaporkan, Dinas Pendidikan Kota Surabaya mempertimbangkan melaporkan dugaan kecurangan pada pelaksanaan UNBK tingkat SMP. Menurut Wali Kota Tri Rismaharini, pihaknya kini tengah berkonsultasi dengan Polrestabes Surabaya.






(FZN)