Narasi Intoleransi di Dunia Maya Picu Radikalisme

Intan Yunelia 18 Mei 2018 13:57 WIB
Tangkal Radikalisme
Narasi Intoleransi di Dunia Maya Picu Radikalisme
Konferensi pers Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). foto: Medcom.id
Jakarta: Dunia maya menjadi salah satu sarana penyebaran paham radikalisme yang masif dan efektif. Paham radikalisme disebar melalui narasi-narasi kebencian dan intoleransi yang secara tidak sadar meracuni pemikiran seseorang.

Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Pamungkas mengatakan pemerintah harus bisa menyelesaikan narasi-narasi Intoleransi yang tersebar di dunia maya. Narasi-narasi seperti ini yang menjadi cikal bakal bibit-bibit radikalisme.

“Gerakan terorisme dilakukan tidak hanya gerakan fisik tapi juga penyebaran ideologi kekerasan di media sosial. Meskipun upaya antisipasi dan konter terhadap narasi di media sosial telah dilakukan, tetapi masih dinilai kurang optimal,” jelas Cahyo.


Untuk memutus mata rantai itu, tidak cukup mengkonter dengan narasi keagamaan atau narasi tandingan. Tetapi perlu identifikasi dan analisis mendalam pada proses produksi narasi tersebut.

Menurutnya, akar dari radikalisme adalah intoleransi, baik di dunia maya dan di dunia nyata. Tak bisa dimungkiri intoleransi yang menguat akhir-akhir ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

"Jadi kita tidak dapat mengesampingkan fakta, menguatnya intoleransi di Indonesia, dikhawatirkan akan menjadi lahan subur gerakan terorisme,” pungkasnya.
 



(CEU)