Ilustrasi. medcom.id
Ilustrasi. medcom.id

Hati-hati! Ini 6 Penyakit Menular yang Mengancam saat Musim Hujan

Adri Prima • 18 Oktober 2022 13:38
Jakarta: Ada banyak penyakit menular yang mengancam saat musim hujan. Pasalnya, saat musim hujan virus serta mikroba lebih mudah berkembang biak.
 
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada sejumlah penyakit menular yang harus diwaspadai masyarakat selama musim hujan, yang disertai dengan genangan di beberapa daerah di Jakarta. 
 
Beberapa penyakit menular yang mengancam warga antara lain diare, demam berdarah dengue, leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut, dan penyakit kulit.

1. Diare


Tjandra menjelaskan penyakit diare punya kaitan erat dengan kebersihan individu. Ketika hujan menimbulkan banjir di berbagai daerah, maka sumber-sumber air minum masyarakat, khususnya sumber air minum dari sumur dangkal, akan banyak yang ikut tercemar. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, ketersediaan air bersih juga terdampak. Keterbatasan air bersih berpotensi menimbulkan penyakit diare disertai penularan yang cepat. 
 
Untuk melindungi diri dari risiko penyakit diare, dia menganjurkan masyarakat untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat dan membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. 
 
Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal, serta tidak lupa menghubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala-gejala diare. 

2. Demam berdarah


Hal kedua yang harus diwaspadai adalah banyak genangan akibat hujan, membuat nyamuk aedes aegypti, yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah dengue, lebih cepat untuk berkembang biak. 
 
Hati-hati! Ini 6 Penyakit Menular yang Mengancam saat Musim Hujan
 
"Karena itu, diingatkan kembali tentang gerakan 3 M yaitu mengubur kaleng-kaleng bekas, menguras tempat penampungan air secara teratur, dan menutup tempat penyimpanan air dengan rapat," kata Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu. 

3. Leptospirosis


Penyakit ketiga yakni Leptospirosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini ditularkan melalui kotoran dan air kencing tikus. Pada musim hujan, terutama saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. 
 
Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar lingkungan manusia sehingga kotoran dan air kencing mereka akan bercampur dengan air banjir. Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran dan kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, berpotensi terinfeksi dan akan jatuh sakit. 
 
Langkah mengantisipasi penyakit leptospirosis adalah menjaga kebersihan agar tidak ada tikus berkeliaran, tidak bermain air saat banjir, terutama jika memiliki luka, serta memakai pelindung seperti sepatu jika terpaksa harus ke daerah banjir. "Segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala, dan menggigil," pesan dia. 

4. Selesma


Saat musim hujan, penyakit yang juga biasa muncul adalah selesma atau pilek. Selesma disebabkan oleh rhinovirus dengan gejala demam ringan, hidung beringus, dan bersin-bersin. Bisa juga disertai nyeri kepala dan batuk.
 
Infeksi rhinovirus dapat terjadi sepanjang tahun, namun kejadian paling tingg salah satunya di musim hujan. 

5. Penyakit kulit


Penyakit kulit disebabkan oleh kebersihan tubuh yang tidak terjaga baik, terutama dalam situasi banjir. 
 
Air genangan banjir juga mengandung banyak kotoran yang mungkin berbahaya bagi kesehatan. Ini termasuk limbah berbahaya, kontaminan lain yang dapat menyebabkan infeksi luka, ruam kulit, serta penyakit kulit lainnya. 

6. Demam Tifoid


Penyakit lain yang patut diwaspadai yaitu demam tifoid. Penyakit yang satu ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.
 
Bakteri ini berasal dari feses penderita sebelumnya. Karena itu, kebersihan pengolahan makanan menjadi cara utama untuk memutus rantai penularan demam tifoid.
 
Penyakit ini memiliki gejala demam tidak terlalu tinggi, nyeri perut, diare, atau konstipasi. Dalam kondisi yang sangat berat, demam tifoid bisa melibatkan gangguan berbagai organ hingga menyebabkan kematian.
 
(PRI)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif