pengungakapan kasus mafia tanah di Polda Metro Jaya, Rabu, 12 Februari 2020. Foto: Medcom.id/ Siti Yona Hukmana
pengungakapan kasus mafia tanah di Polda Metro Jaya, Rabu, 12 Februari 2020. Foto: Medcom.id/ Siti Yona Hukmana

Polisi Bongkar Sindikat Mafia Tanah di Jakarta

Nasional penipuan
Siti Yona Hukmana • 13 Februari 2020 00:49
Jakarta: Polisi mengungkap sindikat kasus mafia tanah. Modus pembelian rumah untuk memalsukan sertifikat hak milik (SHM) rumah mewah di sejumlah wilayah Jakarta
 
Ada delapan tersangka ditangkap Subdit II Harta dan Benda (Harda) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Ke delapan tersangka atas nama Dedi Rusmanto, Raden Handi, Arnold Yosep, Henry Primariady, Siti Djubaedah, Bugi Martono, Dimas Okgi Saputra, dan Denny Elza.
 
"Dua tersangka bernama Neneng Zakiah dan Diah alias Ayu masuk daftar pencarian orang (DPO)," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tersangka atas nama Dedi Rusmanto berstatus narapidana kasus serupa di lembaga pemasyarakatan (lapas) Cipinang. Tujuh tersangka lainnya ditahan di rumah tahanan Polda Metro Jaya.
 
"Dedi tidak ditahan di Polda, kalau dibutuhkan keterangannya kita pinjam dari lapas. Tujuh lainnya sudah kita tahan," ungkap Nana.
 
Setiap tersangka memiliki peran berbeda-beda. Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan korban atas nama Indra Hosein akhir tahun kemarin.
 
Korban melapor karena sertifikat rumahnya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan dipalsukan oleh para tersangka. Sertifikat asli diagunkan ke rentenir.
 
Sedianya, Indra hendak menjual rumahnya itu kepada tersangka Diah alias Ayu yang kini buron senilai Rp70 miliar. Diah mengajak Indra mengecek keaslian sertifikat rumahnya ke kantor notaris palsu, yakni kantor Notaris Idham.
 
"Itu notaris fiktif dengan nama kantor Notaris Idham. Di sana ada tersangka Raden Handi yang mengaku sebagai notaris Idham. Di kantor Notaris Idham, korban memberikan fotokopi (sertifikat) untuk dicek di (kantor) Badan Pertahanan Nasional (BPN) Jakarta Selatan," terang Nana.
 
Pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan itu diwakili rekan korban bernama Luffi. Luffi pergi bersama tersangka Dedi Rusmanto.
 
Setelah BPN menyatakan sertifikat itu asli, tersangka Dedi pura-pura ke toilet dan mengambil sertifikat palsu. Sertifikat palsu yang dipegangnya itu ditukar dengan yang asli tanpa sepengetahuan Luffi.
 
"Dedi mendapatkan upah Rp30 juta untuk peran menukarkan sertifikat rumah itu," tutur Nana.
 
Selanjutnya, sertifikat asli diserahkan tersangka Dimas Okgi dan Ayu. Kemudian, keduanya bertemu dengan seorang rentenir untuk mengagunkan sertifikat rumah Indra tersebut.
 
Untuk meyakinkan rentenir itu, Dimas dan Ayu membawa peran pengganti yang menyamar sebagai Indra dan istrinya. Keduanya berhasil menerima uang hasil gadai sertifikat itu senilai Rp11 miliar.
 
"Uang Rp11 miliar ditransfer ke rekening bank Danamon dan ditarik tunai untuk diserahkan ke tersangka Arnold dan Neneng," kata Nana.
 
Kemudian, ada orang lain yang berniat membeli rumah Indra. Saat itu lah Indra sadar sertifikatnya telah diagunkan. Indra langsung pergi ke BPN dan dokumen sertifikat rumah Indra dinyatakan palsu.
 
"Kerugian sekitar Rp85 miliar, dengan rincian Rp70 miliar dari pemilik sertifikat rumah dan Rp11 miliar dari rentenir yang memberikan pinjaman," pungkas Nana.
 
Para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke (1) KUHP dan atau Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 Pasal 3, 4, 5 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Ancamannya hukuman maksimal 20 tahun penjara.

 

(WHS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif