Instalasi seni gabion di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. MI/Pius Erlangga.
Instalasi seni gabion di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. MI/Pius Erlangga.

Pemprov DKI Disarankan Gelar FGD Bahas Instalasi Gabion

Nasional pemprov dki
Nur Azizah • 25 Agustus 2019 14:06
Jakarta: Pemerhati lingkungan Riyanni Djangkaru mengkritik material instalasi seni gabion di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta Pusat. Riyanni langsung dihubungi anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Firman Yusrak dan Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsita menghubungi Riyanni.
 
"Secara garis besar beliau senang merasa itu masukan yang positif karena dirasa itu adalah bagian dari info yang belum dikuasai pihaknya. Lalu ke depannya dia tanya solusinya apa. Saya bilang aku tidak tahu kalau caranya memperbaiki situasi ini," kata Riyanni saat dihubungi, Jakarta, Minggu, 25 Agustus 2019.
 
Mantan presenter Jejak Petualang ini pun menyarankan Pemprov DKI Jakarta menggelar diskusi terkait terumbu karang. Diskusi terbuka itu bisa melibatkan para akademisi dan ahli.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi lebih baik dalam waktu dekat bisa dibuat semacam FGD (focus group discussion) dari pihak yang memiliki kemampuan akademis mengenai terumbu karang termasuk pihak-pihak terkait yang berbicara status hukum dari terumbu karang," ujar dia.
 
Baca: Instalasi Seni Gabion Dikritik
 
FGD juga harus melibatkan perwakilan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Menurutnya, mereka yang lebih paham terkait perlindungan terhadap terumbu karang lumayan.
 
"Aku usulkan itu. Lalu hasil dari FGD aku usulkan supaya bisa dibuat semacam SOP. Jadi, ketika yang berhubungan dengan lanskap atau instalasi lanskap ada aturan baku, bahan yang digunakan harus apa," jelas Riyanni.
 
Sebelumnya, Riyanni menumpahkan kekecewaannya terhadap Pemprov DKI Jakarta terkait intalasi gabion. Dalam akun Instagramnya ia mempertanyakan asal muasal terumbu karang yang sudah mati itu.
 
"Ada karang otak dan berbagai jenis batuan karang lain yang amat mudah dikenali. Kami menjadi bingung, memandang satu sama Iain dalam kebisuan, bukannya terumbu karang dilindungi penuh?" tulis Riyanni dalam akun Instagramnya.
 
Riyanni menyebutkan konservasi terumbu karang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. UU itu membahas tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif