Pengetahuan Masyarakat Tentang Duyung Masih Terbatas

Achmad Zulfikar Fazli 02 Juli 2018 17:03 WIB
Konservasi Dugong dan Lamun
Pengetahuan Masyarakat Tentang Duyung Masih Terbatas
Ilustrasi dugong. Foto: MI/Sheyka Nugrahani Fadela
Jakarta: Masyarakat diminta berhenti memburu dan memanfaatkan bagian tubuh dugong atau duyung. Pasalnya, dugong merupakan salah satu mamalia laut yang dilindungi.

Perlindungan dugong itu diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sayangnya, tindakan negatif kepada dugong masih terjadi. 

Kasubdit Kovensi dan Jejaring Konservasi, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) M Firdaus Agung mengambil contoh kasus yang terjadi di Probolinggo dan Gresik,  Jawa Timur. Di Probolinggo ada masyarakat yang mengubur dugong dan dikramatkan. Bahkan, dugong dijadikan sebagai ikan asin di Gresik.


"Jadi, masyarakat perlu tahu, ini sudah dilindungi. Pemanfaatannya tidak lagi boleh lagi jadi ikan asin," kata Firdaus saat kunjungan WWF dan KKP ke Media Indonesia membahas Program Konservasi Duyung dan Lamun di Gedung Media Group, Jakarta, Senin, 2 Juli 2018.

Baca: Sepenggal Cerita Pemburu Dugong

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) terus berusaha mengubah pemahaman masyarakat soal dugong dan melakukan konservasi untuk menjaga populasi dugong.

Masyarakat juga bisa menggali informasi tentang dugong serta melaporkan jika menemukan dugong yang meninggal. Hal itu mengingat masih ada masyarakat yang tak tahu harus bertindak seperti apa jika menemukan dugong yang terdampar.

"Kadang manusia juga tidak memakan tapi bingung mesti diapakan," ucap dia.


Kasubdit Kovensi dan Jejaring Konservasi, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) M. Firdaus Agung saat memaparkan mengenai dugong atau duyung. Foto: Achmad Zulfikar Fazli/Medcom.id

Firdaus mengatakan tak bisa memprediksi jumlah populasi dugong di Indonesia. Yang pasti, kata dia, dugong tersebar di seluruh perairan di Tanah Air, mulai dari Aceh hingga Papua.

Selain dugong, pengetahuan masyarakat tentang lamun juga penting. Pasalnya, dugung dan lamun adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. 

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang tumbuh membentuk padang rumput di dasar perairan pesisir yang dangkal. Lamun merupakan pangan utama para dugong.

Ada beberapa faktor yang membuat keberadaan lamun terkikis. Di antaranya penurunan kualitas air laut karena limbah, penangkapan ikan yang merusak seperti bom, serta alih fungsi kawasan yang tidak tepat.

"Rumput duyung makin lama semakin habis karena pembangunan," ujar dia.

Firdaus ingin masyarakat sadar tentang dugong dan lamun ini. Sehingga, populasi keduanya bisa terjaga dengan baik.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id