Ilustrasi--Medcom.id
Ilustrasi--Medcom.id

Aetra Dorong Warga Jakarta Gunakan Air Perpipaan

Nasional air bersih
Husen Miftahudin • 01 Mei 2019 02:55
Jakarta: PT Aetra Air Jakarta terus mendorong masyarakat menggunakan air perpipaan sebagai pengganti penggunaan air tanah. Lewat program Bayar Air Harga Cantik (Bacan), Aetra memberi kemudahan warga Jakarta beralih menggunakan air perpipaan.
 
Implementasi program ini disampaikan secara masif melalui sosialisasi kepada warga di beberapa wilayah. Antara lain di Kelurahan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Kelurahan Jati-Rawamangun, Kelurahan Cijantung, dan Kelurahan Paseban.
 
"Antusiasme warga sangat tinggi untuk melakukan sambungan baru," kata Corporate and Customer Communication Manager Aetra, Astriena Veracia, dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 30 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Astriena menjelaskan, program Bacan menggratiskan biaya pemasangan instalasi baru dan pengunaan air 10 meter kubik pertama setiap bulan selama masa program Bacan. Sasaran utama program Bacan adalah kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
 
"Biaya yang ditawarkan mulai dari Rp33 ribu, Rp66 ribu, dan Rp89 ribu per bulan," urainya.
 
Dalam sosialisasinya di RW 08, Kelurahan Paseban, Senen, Jakarta Pusat, puluhan warga mendaftar sebagai pelanggan baru. Mereka beralih menjadi pengguna air perpipaan lantaran hasil uji laboratorium menyatakan kondisi air di wilayah tersebut kurang baik untuk kesehatan karena mengandung mangan dan bakteri Escherichia coli (E.coli).
 
Di wilayah lainnya, yakni di RW 011, Kelurahan Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur juga berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai pelanggan baru Aetra. "Warga berharap sebelum masuk Lebaran, pipa air bersih sudah terpasang," ungkap Astriena.
 
Hingga saat ini, sebanyak 72,5 persen area pelayanan Aetra sudah terpasang jaringan perpipaan. "Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi masyarakat Jakarta untuk tidak menggunakan air perpipaan," tegasnya.
 
Penggunaan air perpipaan juga selaras dengan Surat Edaran Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 37 Tahun 2011 tentang Penggunaan Air Tanah Sebagai Cadangan. Dalam beleid tersebut, Gubernur meminta untuk tidak mengambil air bawah tanah secara berlebihan di wilayah DKI Jakarta karena akan mengakibatkan dampak antara lain penurunan muka tanah (land subsidence) dan penurunan kualitas air.
 
Pelanggaran terhadap pemanfaatan air bawah tanah yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dapat dikenakan sanksi administrasi, perdata, dan pidana.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif