Jakarta Smart City Disebut Kurang Fokus

M Sholahadhin Azhar 20 Juli 2018 14:02 WIB
pemprov dki
Jakarta Smart City Disebut Kurang Fokus
Manajer Kemitraan Smart City Universitas Indonesia Ahmad Gamal/Medcom.id/Adin
Jakarta: Konsep Jakarta Smart City (JSC) dikritisi lantaran terlalu fokus pada pelayanan dasar seperti perizinan dan pelayanan. Padahal, ada aspek lain di Kota Jakarta yang harus ditata, seperti pertumbuhan penduduk.

"Sebetulnya bukan kurang, tapi saat ini fokus JSC mengefisienkan pemerintahan kota. Untuk pemkot lebih efisien maka yang dilakukan Pemda DKI menggunakan IT untuk pelayanan dasar misal perizinan pelayanan," kata Manajer Kemitraan Smart City Universitas Indonesia Ahmad Gamal kepada Medcom.id di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Juli 2018.

Ia mengakui laman web JSC memuat semua info tentang Jakarta, bahkan aplikasi pengaduan seperti Clue. Sayangnya, itu belum bisa mengakomodasi perkembangan kota. Gamal mencontohkan sistem traffic light yang masih kuno.


"Contohnya lampu merah kan dipasang pengatur waktu, padahal ada masa di lampu merah itu enggak ada kendaraan sama sekali. Ngapain kita harus berhenti di lampu merah manakala enggak ada mobil? Di sisi lain ada jam padat yang kendaraannya luar biasa banyak dan menumpuk sementara lampu merahnya detiknya sama," kata Gamal.

Pemprov DKI, kata dia, masih menyelesaikan permasalahan itu dengan cara lama. Polisi lalu lintas akan turun mengondisikan alur lalu lintas dan memandu untuk mengurangi volume kendaraan.

Hal-hal semacam itu harus diperbarui  dengan sistem. Jakarta dianggap belum memiliki sistem pintar manajemen pengelolaan kota.

Smart City UI, kata dia, bisa mendesain sistem pemantau lalu lintas, mengelola info, dan memutuskan sendiri. Contohnya, kapan traffic light di lajur A mengondisikan pengaturan waktu sehingga kendaraan tak tertahan terlalu lama.

Di luar negeri, khususnya Amerika, lampu merah yang fleksibel sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Ia optimistis inovasi serupa bisa diterapkan di Ibu Kota.

"Karena sekarang, menurut saya sudah sangat beda dengan yang dulu. Mereka punya kesadaran merespons kebutuhan masyarakat dan penetrasi teknologi itu sangat masif. Artinya tetap perlu investasi, membangun biaya infrastruktur. Sekarang tinggal political willingness saja. Mau enggak?" sambung Gamal.

Di sisi lain, Gamal menilai Pemprov DKI sudah memilki sarana penunjang teknologi. Setidaknya, DKI memiliki 6 ribu CCTV terintegrasi.

Smart City UI telah mendesain simulasi penerapan pengaturan kota berbasis digital. CCTV bisa menginformasikan penumpukan kendaraan terjadi di area mana dan berdampak pada volume kendaraan di lampu merah.

Sistem itu tak akan menahan kendaraan lebih dari 30 detik di satu lampu merah. "Walau level simulasi, kita bisa lakukan. Ini tinggal political willingness, mau enggak diimplementasikan," tegas dia.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id