Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan - Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan - Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Anies Belum Sreg Tarif MRT

Nasional mrt
Nur Azizah • 26 Maret 2019 10:45
Jakarta: Pemprov DKI Jakarta belum sepakat dengan putusan tarif Moda Raya Terpadu (MRT). Kemarin, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi memutuskan tarif MRT sebesar Rp8.500 per 10 kilometer.
 
Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum sreg dengan putusan tersebut. Dia ingin tarif MRT dihitung kembali.
 
"Kita masih ada waktu (untuk bahas tarif). Toh, ini masih belum beroperasi secara komersial, jadi saya masih akan bicara dengan dewan," kata Anies di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa, 26 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anies menyebut penetapan tarif yang diketok DPRD belum final. Pasalnya, angka tersebut belum tertuang dalam keputusan gubernur.
 
"Kemarin memang dewan sudah bersidang dan kita terus membahasnya sampai nanti ditetapkan lewat kepgub karena penetapannya melalui kegiatan. Sekarang masih fase pembahasan," ujar dia.
 
Tarif yang ditetapkan DPRD lebih murah ketimbang usulan yang diberikan Pemprov DKI Jakarta. Pemprov mengusulkan tarif MRT sebesar Rp10 ribu per 10 kilometer.
 
"(Harga murah) bukan buat saya. Hitungannya bukan seperti itu, hitungannya antarstasiun bukan harga flat," tegas dia.
 
(Baca juga:'Norak' saat Coba MRT Tak cuma di Jakarta)
 
Kemarin, tarif MRT Jakarta ditetapkan sebesar Rp8.500. Sedangkan, tarif light rail transit (LRT) sebesar Rp5.000.
 
"Kita putuskan harga tarif MRT Rp8.500, sedangkan LRT Rp5.000," kata Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi sambil mengetok palu, Jakarta, Senin, 25 Maret 2019.
 
Rapat penetapan tarif sempat berjalan alot. Sejumlah anggota DPRD saling lempar pendapat.
 
Beberapa di antaranya meminta tarif MRT Jakarta Rp10.000 per 10 kilometer. Sedangkan anggota lainnya meminta tarif MRT Jakarta Rp5.000 hingga Rp7.000 per 10 kilometer.
 
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Suhaimi ingin tarif MRT dan LRT diberlakukan mulai awal 2020. Namun, kebijakan ini hanya dikhususkan bagi warga DKI.
 
"Komisi B mengusulkan agar pengenaan tarif MRT dan LRT khusus warga DKI Jakarta diberlakukan di awal 2020," kata Suhaimi di rapat gabungan penetapan tarif.
 
Usulan itu agar subsidi tidak dimasukkan dalam komponen depresiasi. Tujuannya, agar tidak terjadi pengendapan anggaran dalam jangka yang terlalu lama dalam komponen depresiasi.
 
"Jadi, supaya dianggarkan terpisah untuk menghindari pengendapan anggaran yang terlalu lama," ungkap Suhaimi.
 
(Baca juga:MRT Gratis Hingga 31 Maret)
 
Sementara Pemprov DKI Jakarta mengusulkan tarif MRT Jakarta sebesar Rp10 ribu per 10 kilometer dan tarif LRT Rp6.000.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Perekonomian DKI Jakarta M Abas menjelaskan tarif keekonomian MRT Jakarta Rp31.659 per penumpang. Sedangkan tarif keekonomian LRT Jakarta yakni Rp41.655.
 
Lantaran terlampau mahal, Pemprov mau tak mau harus memberikan subsidi agar tarif kedua moda itu bisa ditekan. Setelah diberi subsidi, penumpang hanya perlu membayar Rp10.000 untuk MRT dan Rp6.000 untuk LRT.
 
"Untuk MRT Jakarta jumlah subsidi yang dibutuhkan per penumpang yakni Rp21.659. Sementara subsidi per penumpang untuk LRT Jakarta yakni Rp35.655," ungkap dia.
 
Kemudian, estimasi jumlah penumpang pada 2019 untuk MRT Jakarta yakni 65 ribu orang per hari dan LRT Jakarta 14.255 penumpang per hari. Dengan demikian, jumlah subsidi yang dibutuhkan yakni Rp572 miliar untuk MRT dan Rp327 miliar untuk LRT pada 2019.
 
Abas menyampaikan kebutuhan subsidi untuk MRT Jakarta masih di bawah anggaran subsidi yang sudah dialokasikan dalam APBD DKI 2019.
 
"Subsidi Rp572 miliar masih di bawah angka penetapan sebesar Rp672 miliar. Kebutuhan real subsidi untuk LRT itu sama dengan jumlah alokasi anggaran yang sudah disediakan (Rp327 miliar)," tambah Abas.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif