Satpol PP menyegel diskotek Mille's International Club di Tamansari, Jakarta, Kamis (13/10/2016). Foto: MI/Adam Dwi
Satpol PP menyegel diskotek Mille's International Club di Tamansari, Jakarta, Kamis (13/10/2016). Foto: MI/Adam Dwi

Berdalih Ada BNN, Ratusan Pengunjung Top One Disembunyikan 7 Jam

Nasional psbb di jabodetabek
Antara • 08 Juli 2020 10:52
Jakarta: Pengunjung diskotek, bar, dan spa Top One diminta pengelola untuk bersembunyi saat dilakukan penggerebekan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta dan Satpol PP Jakarta Barat, Jumat, 3 Juli lalu.
 
Berdasarkan pengakuan salah satu pengunjung, Wanda, permintaan itu dilakukan manajemen sejak pukul 03.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB sebelum diskotek tersebut digerebek dan ditemukan beroperasi di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
 
Wanda mengaku, dia dan ratusan pengunjung lainnya diminta bersembunyi oleh pengelola dengan alasan ada razia yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jadi dibilangnya ada razia BNN, kami semua dikumpulin di tangga darurat, lampu dan AC semua dimatiin, gelap gulitalah,” ucap Wanda saat dihubungi, Selasa, 7 Juli 2020.
 
Mereka pun mengeluh karena panas dan pengap, namun pengelola tetap meminta mereka bertahan dan ponsel mereka pun diminta dikumpulkan oleh pihak keamanan Top One.
 
“Sebelum ponsel disita itu, saya masih sempat minta taksi online jemput. Soalnya dibilang pukul enam bisa keluar. Tapi sampai pagi kami masih dikunciin juga,” tuturnya.
 
Wanda menceritakan tepat sebelum pukul 10.00 WIB dirinya baru bisa bernapas cukup leluasa usai sejumlah petugas Top One meminta para pengunjung untuk berpindah tempat menuju lantai paling atas.
 
“Kami dipindah ke rooftop, di situ lega, tapi masih belum boleh keluar karena katanya masih ada BNN,” ujarnya.
 
Selang beberapa waktu terdengar entakan kaki dan teriakan dari lantai bawah yang belakangan diketahui puluhan petugas Satpol PP yang merangsek masuk gedung Top One. Tidak berselang lama sejumlah anggota kepolisian dan Satpol PP menuju ruangan tempat berkumpulnya seluruh pengunjung Top One.
 
Ketika itu, meski dirinya khawatir ditangkap aparat, Wanda mengaku gembira dapat meninggalkan Top One dan bisa segera pulang ke rumah.
 
“Takut campur seneng, seneng bisa keluar dari situ,” ucapnya.
 
Dirinya bersama seluruh pengunjung pun diminta untuk turun dan meninggalkan gedung. Setelah dikumpulkan di bagian belakang gedung, mereka kemudian didata hingga akhirnya dipulangkan.
 
“Dari kejadian ini saya kapok, saya nggak lagi ke situ (Top One), itu karena saya diajak saja sama temen, baru sekali-kalinya ke situ,” ujar dia.

Penguncian gedung

Adapun Humas Top One, Andry, belakangan mengakui pihaknya mengunci gedung dan menempatkan seluruh pengunjung di rooftop.
 
“Kan, tidak masuk akal orang lagi panik ketakutan kok mau berbuat yang tidak-tidak. Suasananya mencekam ditambah banyak ruangan masih gelap gulita,” kata Andry dikonfirmasi pada Senin, 6 Juli 2020.
 
Lebih lanjut, Andry mengatakan mereka memohon pembinaan pada Pemprov DKI Jakarta.
 
“Pada dasarnya kami mohon pembinaan Pemerintah DKI Jakarta agar usaha di sektor tempat hiburan tetap berjalan sebagai mana mestinya,” tuturnya.
 
Sebelumnya, Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Pariwisata, Dinas Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Iffan, mengungkapkan pelanggaran yang dilakukan Top One masif karena ditemukannya lebih dari 130 orang di dalamnya.
 
Bahkan, ada dugaan penyalahgunaan narkoba karena adanya usaha penyembunyian pengunjung oleh pengelola Top One. Ia belum bisa memastikan, namun dirinya menyebut akan diselidiki lebih lanjut.
 
“Kami lakukan monitoring dan pembatasan bahwa selama PSBB kegiatan untuk usaha karaoke atau usaha hiburan. Hari ini ditemukan pelanggaran cukup masif di Top One di tengah masa pandemi ini. Sekitar 150 orang yang kami dapat. Ya, ada indikasi ke sana (pelanggaran berat). Tapi akan kami rapatkan lebih dulu dengan Satpol PP. Yang jelas hari ini ada temuan yang masif di sini,” ucap Iffan pada Jumat, 3 Juli 2020.
 
Sementara itu, Kasie Ops Satpol PP Jakarta Barat, Ivand Sigiro, mengungkapkan pihaknya juga menduga terdapat pelanggaran mulai minuman keras hingga berhubungan intim dengan pemandu karaoke dan PSK yang ada di sana.
 
“Ada dugaan itu. Makanya kami sedang selidiki lebih lanjut,” kata Ivand.
 
Tempat hiburan malam berupa diskotek, karaoke dan griya pijat Top One di Jalan Daan Mogot 1 Jakarta Barat, kedapatan beroperasi di tengah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi fase 1. Hal itu diketahui setelah Dinas Pariwisata DKI Jakarta bersama Satpol PP Jakarta Barat dengan dibantu aparat TNI (Babinsa) dan kepolisian melakukan razia pada Jumat pagi.
 
Kemudian, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat menyegel sementara tempat hiburan malam tersebut karena beroperasi saat PSBB transisi.
 
“Untuk sementara kami lakukan penyegelan sementara, sambil menunggu pemeriksaan lanjutan karena ditemukan kegiatan hiburan yang dilarang di tempat usaha ini,” kata Kepala Seksi Operasi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat Ivand Sigiro di Jakarta Barat, Jumat, 3 Juli.
 
(MBM)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif