PDIP DKI Minta Kasus Guru Doktrin Siswa Anti-Jokowi Diusut
Calon Presiden Joko Widodo dan calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin. ANT/Puspa Perwitasari.
Jakarta: Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta mengecam keras dugaan doktrinisasi anti-Presiden Joko Widodo yang dilakukan seorang guru SMA 87 Jakarta. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Gembong Warsono mengatakan seharusnya guru melaksanakan tugas secara profesional.

Menurutnya, perbedaan pandangan politik wajar. Namun, tidak tepat bila disebarkan ke anak didik.

"Apa boleh melaksanakan agenda politik di sekolah? Berbeda pandangan boleh, tapi tidak menyebarkan kebohongan di sekolah. Apalagi oleh seorang guru yang harusnya menjadi contoh," kata Gembong di Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2018.


Gembong akan segera berkoordinasi dengan Komisi E DPRD DKI Jakarta yang membidangi pendidikan. Ia akan meminta Komisi E memanggil Dinas Pendidikan untuk mengusut tuntas dugaan doktrinisasi tersebut.

"Harus diusut tuntas, motif dari guru tersebut. Apa ini akibat pembinaan terhadap guru lemah," pungkas dia. 

Baru-baru ini kabar dugaan doktrinisasi yang dilakukan seorang guru kepada murid beredar. Seorang wali murid menceritakan bagaimana anaknya didoktrin untuk membenci Presiden Joko Widodo. 

Dugaan doktrinisasi ini bermula ketika guru berinisial NK mengumpulkan siswa dan memperlihatkan video gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Di tengah penayangan video itu, guru tersebut bertanya penyebab musibah tersebut. 

"Kemudian ibu guru itu bertanya kepada muridnya. Ini salah siapa? Salah pemerintah. Salah Jokowi," kata orang tua murid itu meniru ucapan guru. 

Guru yang diketahui berinisial NK ini kemudian meminta siswanya tidak memilih Jokowi di Pilpres mendatang. Cerita ini kemudian viral di media sosial. 

Kepala sekolah SMA 87 Jakarta Patra Patria mengatakan NK sudah diperiksa dan meminta maaf. Permintaan maaf ini turut disaksikan tiga wakil kepala sekolah dan kepala tata usaha. 

"Saya sudah panggil guru dan melakukan pembinaan. Itu disaksikan oleh wakil kepala sekolah dan ketua TU. Dia sudah minta maaf dan buat pernyataan tidak akan mengulanginya lagi," kata Patra kepada Medcom.id, Rabu, 10 Oktober 2018. 



(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id