Ilsutrasi. Medcom.id/Rakhmat Riyandi
Ilsutrasi. Medcom.id/Rakhmat Riyandi

Ibu Dua Anak di Jakarta Utara Tuntut Keadilan

Nasional kekerasan dalam rumah tangga
01 Maret 2018 10:00
Jakarta: Ibu rumah tangga, Mery Yeni Jono, menuntut keadilan atas kekerasan yang menimpanya. Ibu dua anak itu mengaku dikeroyok dan dianiaya oleh suami dan iparnya. Dirinya sudah melaporkan kasus itu ke Polres Jakarta Utara sejak 2015 dan para pelaku sudah di vonis pengadilan, namun hingga kini tidak ditahan.
 
"Saya tidak hanya dikeroyok, tapi barang berharga saya dicuri, kejadian Agustus 2015," kata Mery, Rabu 28 Februari 2018.
 
Mery mengatakan, pelaku adalah suaminya berinisial T, serta dua iparnya berinisial R dan J. insiden itu terjadi di rumahnya di Jalan Terusan Bandengan Utara, Pejagalan, Jakarta Utara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka di hidung, bibir, area mata, lengan, dan payudara. Selain itu, para pelaku membongkar lemari mengunakan linggis dan obeng.
 
"Setelah mereka mengambil barang dan mengeroyok saya, mereka kemudian mengunci saya dan pergi," ujarnya.
 
Mery mengungkapkan, dirinya sudah melapor ke Polres Jakarta Utara dengan nomor laporan TBL/858/K/VIII/2015/PMJ/RESJU dan ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).
 
Dalam laporannya, Mery mengaku didorong, dipukul dan ditendang secara bergantian oleh ketiga pelaku.
 
"Saya sudah menanyakan perkembangan laporan saya. Penyidik mengatakan laporan saya masih ada yang kurang dan meminta saya menanyakan ke Jaksa. Ternyata pasal yang dikenakan itu berubaha, dari Pasal 170 berubah menjadi Pasal 44 ayat 4 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Alasannya, saya masih bisa beraktivitas normal," ujarnya.
 
Baca: KDRT dan Rumah Tangga yang Cenderung Tertutup
 
Mery menceritakan, pada 2 Juni 2016 dia kembali dipanggil oleh ke Polres Jakarta Utara untuk membuat laporan baru.
 
"Akhirnya dibuat nomor Laporan TBL/706/K/VI/2016/PMJ/RESJU untuk pengeroyokan dan laporan TBL/705/K/VI/2016/PMJ/RESJU untuk pencurian," katanya.
 
Meski sudah melakukan laporan ulang, belum ada titik terang dari kasusnya dan penyidik mengatakan tidak ada saksi atas kejadian tersebut.
 
Mery mengatakan, laporan kasus KDRT akhirnya disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan naik ke tahap banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Hasil sidang memenangkan dirinya atas terlapor T.
 
Kemudian pada 17 November 2017, Polres Jakarta Utara menetapkan tersangka kepada kedua ipar Mery, yakni R dan J. "Pada 22 November 2017 saya dipanggil penyidik untuk datang ke Polres mengambil surat pemberitahuan tersangka dan meminta saya ke pengadilan mengambil barang bukti kaca mata di Kejaksaaan Jakarta Utara," ujarnya.
 
Namun, barang bukti kaca mata sudah tidak ada di Kejaksaan. "Saat itu, di Kejaksaan sudah tertera dua jaksa untuk kasus pengeroyokan dan pencurian. Saya bertanya kenapa tersangka tidak ditahan, sampai hari ini tersangka belum di tahan," katanya.
 

 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif