Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan. (Foto: Medcom.id/Meilikhah)
Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan. (Foto: Medcom.id/Meilikhah)

Anies Telat Bicara Uji Emisi Gas

Nasional polusi udara
Ilham Pratama Putra • 05 Juli 2019 11:27
Jakarta: Kualitas udara DKI Jakarta kian memprihatinkan. Ide Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan kebijakan uji emisi gas bagi kendaraan bermotor pun dinilai terlambat.
 
"Jika saat ini Gubernur Jakarta Anies Baswedan baru bicara akan melakukan kebijakan uji emisi bagi kendaraan bermotor mulai 2020 itu terlambat," kata Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan, di Jakarta, Jum'at, 5 Juli 2019.
 
Dalam Perda Nomor 2 Tahun 2005 diatur bahwa kendaraan wajib melakukan uji emisi setiap bulan secara rutin. Tujuannya untuk mengendalikan emisi gas buang kendaraan bermotor agar tidak menambah polusi udara Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, Azas mengamini salah satu penyumbang buruknya udara Ibu Kota berasal dari buangan emisi gas kendaraan bermotor. Hal itu diperparah dengan kemacetan yang terjadi di ruas-ruas utama Jakarta.
 
"Tingginya emisi gas buang kendaraan bermotor di Jakarta diakibatkan oleh kemacetan Jakarta yang sudah akut," ujar Azas.
 
Baca juga: Anies Wajibkan Bengkel di Jakarta Punya Alat Uji Emisi
 
Menurut Azas peningkatan kualitas udara Jakarta dapat dilakukan dengan kembali menghijaukan kota Jakarta. Misalnya penanaman pohon yang mampu menyerap udara kotor polusi.
 
"Jadi jika ingin mengurangi polusi udara atau meningkatkan kualitas baik udara. Selain Perdanya ditegakkan, mengurai kemacetan juga harus dilakukan," pungkasnya.
 
Melansir situs Airvisual.com, Senin, 1 Juli 2019, Jakarta menempati posisi pertama dengan indeks kualitas udara (AQI) sebesar 178. AQI memiliki rentang dari 0 hingga 500. Semakin rendah AQI berarti udara sangat baik. Sebaliknya, semakin tinggi AQI berarti udara makin buruk.
 
Posisi Jakarta disusul Chengdu, Tiongkok, di posisi kedua dengan AQI sebesar 161. Sementara itu, Dubai, Uni Emirat Arab, ada di peringkat ketiga dengan AQI sebesar 154. AQI ketiga kota ini dikategorikan tidak sehat.
 
Dengan kategori ini, kualitas udara ini dianggap buruk dan dapat menyebabkan pembengkakan jantung dan paru-paru. Kelompok yang sensitif dengan udara pun berisiko tinggi untuk mengalami efek kesehatan yang buruk dari polusi udara.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif