Tong Sampah dari Jerman Diklaim Efektif
Tumpukan sampah di tempat pengepulan sampah di Jakarta, Kamis (10/5/2018). Foto: Antara/Aprillio Akbar
Jakarta: Pembelian tong sampah dari Jerman yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta menuai kontroversi. Pasalnya, pembelian tong sampah itu menghabiskan APBD sebanyak Rp9,56 miliar.

Awalnya, Pemprov menganggarkan Rp12,5 miliar. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan pengadaan ini untuk memudahkan pengumpulan sampah.

"Untuk memodernisasi proses pengumpulan sampah Ibu Kota. Langkah ini diambil agar Jakarta sejajar dengan kota-kota maju dunia dalam layanan pengelolaan sampah," kata Isnawa dalam keterangan tertulisnya, Jakarta Pusat, Senin, 4 Juni 2018.


Ia menjelaskan selama ini pola pengumpulan sampah dilakukan dengan cara tradisional, yaitu tukang gerobak mengumpulkan sampah dari permukiman, kemudian di-dumping di tempat penampungan sampah sementara (TPS). Setelah itu, diangkat kembali ke truk sampah untuk dikirim ke TPST Bantargebang.

“Proses ini tidak efektif dan tidak efisien. Coba kita hitung berapa kali sampah itu naik turun untuk bongkar muat saja. Naik ke gerobak di masing-masing rumah, turun dari gerobak di TPS, naik ke truk sampah dan turun lagi di TPST Bantargebang, ” terang dia.

Dengan adanya tong sampah ini, proses pengumpulan sampah secara bertahap bisa dipangkas. Untuk jalur pengumpulan sampah yang dilalui truk compactor atau truk sampah tertutup akan disediakan garbage bin 660 liter.

“Ilustrasinya satu orang di Jakarta rata-rata menghasilkan 2-3 liter sampah per hari. Satu tong sampah jenis ini dapat menampung sampah yang dihasilkan kira-kira 330 orang atau setara 70 kepala keluarga. Ketika jadwal pengangkutan garbage bin, petugas dapat mendorong bin beroda ini ke lokasi truk compactor dan mengaitkan ke kait hidroliknya, maka sampah akan terangkat ke dalam truk compactor. Persis seperti di negara-negara maju,” jelasnya.

Baca: DKI Pesan Tong Sampah Hingga Rp9,58 Miliar

Sedangkan untuk jalur pengumpulan sampah yang masih menggunakan gerobak atau gerobak motor, maka garbage bin 660 liter ini diletakkan di TPS. Sampah permukiman padat yang tak terlayani truk compactor, akan dikumpulkan oleh petugas gerobak motor ke TPS.

Selama ini, sampah di TPS dibuang secara terbuka. Isnawa ingin sampah-sampah di TPS diwadahi di garbage bin, sehingga tertutup untuk menghindari bau yang menyebar, berkembangbiaknya lalat dan binatang vektor penyakit lainnya.

“Tahun ini, ibu kota juga menjadi tuan rumah Asian Games, sesuai pesan Pak Gubernur dan Pak Wagub, kita harus menjadi tuan rumah yang baik dan kita harus menorehkan catatan sejarah. Salah satunya yang menjadi fokus kami di DLH adalah memodernisasi dan meningkatan layanan pengelolaan sampah,” kata Adji.





(UWA)