Lalu lintas. Foto: MI/Susanto
Lalu lintas. Foto: MI/Susanto

Bijak Gunakan BBM Membantu Pelestarian Lingkungan

Nasional lingkungan RUU KUHP lingkungan hidup pertamina BBM Virus Korona Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan covid-19 pandemi covid-19
Anggi Tondi Martaon • 05 Maret 2021 15:15
Jakarta: Masyarakat Indonesia diminta semakin memedulikan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, hal tersebut berpengaruh pada pelestarian lingkungan
 
Faktor pertama yang harus diperhatikan, yakni kandungan octan atau research octane number (RON) dalam bensin. Kandungan tersebut harus sesuai kebutuhan mesin sehingga ramah lingkungan.
 
"Kedua, kita juga harus mulai menengok kandungan sulfur dalam emisi gas buang yang dihasilkan dari setiap produk BBM yang kita gunakan untuk mengurangi polusi udara," kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, melalui keterangan tertulis, Jumat, 5 Maret 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, banyak beredar BBM dengan kandungan octan rendah dan tak sesuai standar EURO. Hal tersebut tentu memperburuk keadaan lingkungan
 
Kendaraan dengan bahan bakar tak sesuai cenderung boros dan tak ramah lingkungan. Fabby mengatakan ada enam produk di Indonesia dengan RON 88, salah satunya BBM jenis Premium.
 
Baca: Perangi Perubahan Iklim, Teknologi Ini Pangkas 10% Konsumsi Listrik Global
 
"Selain terlalu banyak, standar RON juga tidak sesuai standar EURO 4 minimal RON 91, kita masih sangat jauh tertinggal," ujar Fabby.
 
Dia mengatakan masyarakat terkadang hanya melihat harga tanpa menimbang kualitas spesifikasi mesin. Di sisi lain, produk murah muncul tanpa ada edukasi yang tepat dan berkelanjutan. 
 
Direktur Pengendalian dan Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dasrul Chaniago, mengatakan masalah ini memengaruhi kualitas udara di kota-kota besar. Sekitar 70-75 persen sumber pencemaran udara di kota besar dari sektor transportasi, yakni emisi gas buang.
 
"Coba kita mundur kembali pada awal pandemi covid-19, terlihat kualitas udara Jakarta membaik, langitnya biru, itu disebabkan oleh berkurangnya mobilitas masyarakat yang menggunakan kendaraan,” kata Dasrul.
 
Sama seperti RON, kandungan sulfur BBM di Indonesia belum memenuhi standar EURO 4, hanya Pertamax Turbo (RON 98) yang setara standar tersebut. Produk seperti Premium dengan kualitas terendah, lanjut Dasrul, mungkin hanya memenuhi standar EURO 2 dengan kandungan sulfur berada di 500 ppm.
 
“Lagi-lagi, kita tertinggal dari negara tetangga. Filipina, Vietnam, dan Thailand sudah menggunakan produk setara EURO 4, bahkan Thailand di 2023 akan mulai mengarah ke EURO 5. Di Asia Tenggara Singapura sudah paling maju sejak 2017 sudah sesuai dengan standar EURO 6, sama seperti negara-negara maju di Eropa. Indonesia, sejak 2000 masih berkutat rata-rata di EURO 2,” jelas Dasrul.
 
Dia mendukung sinergi pemerintah dan BUMN Pertamina untuk mendorong penggunaan BBM ramah lingkungan. Dasrul menyebut jika semua pihak berkomitmen, cita-cita Indonesia dalam Paris Protocol 2015 bisa tercapai.
 
"Yakni mengurangi emisi karbon hingga 29 persen pada 2030,” kata Dasrul.
 
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), Putut Andriatno mengatakan pihaknya terus mengedukasi penggunaan BBM berkualitas kepada masyarakat. Pertamina juga berkontribusi mengurangi pencemaran udara melalui Program Langit Biru (PLB), yakni promosi produk Pertalite untuk mengganti penggunaan Premium.
 
“Harapannya, pengguna Premium akan merasakan sendiri dan mendapatkan pengalaman langsung manfaat menggunakan BBM berkualitas sehingga menumbuhkan kesadaran di masyarakat untuk beralih,”  kata Putut.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif