NEWSTICKER
Ilustrasi. Medcom.id.
Ilustrasi. Medcom.id.

Dokter Aborsi Ilegal Bisa Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Nasional aborsi ilegal
Anggi Tondi Martaon • 20 Februari 2020 15:46
Jakarta: Dokter yang terbukti menyediakan jasa aborsi ilegal dinilai bisa dijerat pasal pembunuhan berencana. Artinya, dokter tersebut bisa diancam hukuman mati.
 
"Kalau dokter itu pasti harus dikenakan itu (pembunuhan berencana). Wong dia punya tempat, punya keahlian, punya alat. Sumpahnya saja dia langgar," kata Anggota Komisi III Ichsan Soelistyo kepada Medcom.id, Kamis, 20 Februari 2020.
 
Saat ini, kata Ichsan, penerapan sanksi bagi dokter yang melakukan aborsi ilegal termuat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2014 tentang Kesehatan. Hukuman bagi dokter yang terbukti melakukan aborsi ilegal penjara lebih dari 10 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara, kata Ichsan, pasien yang melakukan aborsi tidak bisa dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Sebab, tindakan tersebut dinilai lantaran ada faktor lain. Misalnya, karena tekanan akibat hamil di luar nikah.
 
"Antara si A dan si B berhubungan tiba-tiba ketelanjuran (hamil) kemudian karena tekanan dan segala macam dia melakukan itu ya tak bisa dibilang berencana dong. Itu kan karena tekanan. Kan situasinya berbeda," ungkap dia.
 
Dokter Aborsi Ilegal Bisa Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana
Klinik aborsi ilegal di Jalan Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Foto: Medcom/Yurike Budiman
 
Ichsan menuturkan ada dua pasal yang bisa menjerat pasien aborsi di Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). Pihak yang menyuruh aborsi dikenakan Pasal 348 ayat (1) dengan ancaman penjara paling lima tahun enam bulan. Sedangkan, perempuan dianggap melanggar pasal 346 KUHP dengan ancaman penjara paling lama empat tahun.
 
"Itu sudah masuk dalam kategori pelanggaran hukuman berat," sebut dia.
 
Ichsan menegaskan praktik aborsi hanya bisa dilakukan untuk dua hal, yaitu alasan medis atau korban pemerkosaan. Khusus korban pemerkosaan juga harus dibuktikan dengan laporan polisi.
 
"Kalau laporan polisi setelah satu atau dua bulan kejadian enggak boleh aborsi lagi. Ada kedaluwarsa. Laporan pemerkosaan itu ada kedaluwarsanya," ujar dia.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif