Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.
Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.

Polri Usut Dugaan Teroris Ali Kalora Bunuh Warga

Nasional terorisme
Kautsar Widya Prabowo • 26 Juni 2019 15:15
Jakarta: Polri tengah mendalami dugaan keterlibatan kelompok teroris Ali Kalora dalam pembunuhan dua warga di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng). Hal ini mengingat pada awal 2019, kelompok ini sempat memutilasi warga setempat.
 
"Tidak menutup kemungkinan (Ali Kalora) terlibat, namun demikian masih perlu pendalaman lebih lanjut," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, di Gedung Divisi Humas, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Menurut dia, hasil autopsi sementara menunjukkan kedua warga tersebut dibunuh dengan benda tajam. Polisi di lokasi pun masih mengusut masalah ini. "Ini nanti akan didalami oleh tim Polda Sulteng dan Satgas (Satuan Tugas) Tinombala," jelas Dedi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selasa, 25 Juni 2019 pukul 07.00 Wita, warga Parigi Moutong digegerkan dengan penemuan dua jenazah, Tamar, 50, dan Fatmar, 25. Korban yang merupakan ayah dan anak ditemukan di area perkebunan Desa Tanalanto, Kecamatan Torue.
 
Kedua korban berprofesi sebagai petani kebun dan pembuat gula aren. Keduanya adalah warga dusun Tokasa, Desa Tanalanto.
 
Sementara itu, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora sejatinya telah diultimatum untuk menyerahkan diri sejak Januari 2019. Tim gabungan TNI dan Polri mengancam bertindak tegas bila mereka tak juga menyerahkan diri.
 
Baca: Jalur Logistik Kelompok Ali Kalora Berupaya Diputus
 
Satgas Tinombala telah menyebarkan pamflet atau foto agar kelompok Ali Kalora menyerahkan diri ke kepolisian. Aparat juga meminta masyarakat memberitahukan jika menemukan anggota teroris dari kelompok Ali Kalora.
 
Saat ini, posisi kelompok teror di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, itu kian terpojok. Kelompok Ali Kalora kini terpecah menjadi dua. Kelompok pertama terdiri dari enam orang, sedangkan kelompok kedua terdiri dari empat orang.
 
Anggota MIT bertahan hidup dengan meminta perbekalan ke masyarakat. Lantaran diancam dengan senjata api, masyarakat memberikan yang diminta kelompok MIT.
 
Sisa senjata yang dimiliki kelompok ini hanya berjenis revolver sebanyak dua pucuk dan satu senjata laras panjang. Pergerakan kelompok MIT terus dimonitor oleh Satgas Tinombala.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif