Tersangka pencurian modul BTS diperlihatkan polisi pada konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2020. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Tersangka pencurian modul BTS diperlihatkan polisi pada konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2020. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Eks Karyawan Telkom Otak Pencurian Penguat Sinyal BTS

Nasional pencurian
Siti Yona Hukmana • 31 Agustus 2020 20:38
Jakarta: Otak pencurian alat penguat sinyal atau modul menara base transceiver stasiun (BTS) TS, 47, bukan orang asing di bidang telekomunikasi. Dia mantan pegawai PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom).
 
"Karyawan PT Telkom selama 16 tahun. Jadi dia bisa tahu kegunaan modul ini dan tahu fungsi modul ini," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 31 Agustus 2020.
 
Menurut dia, setelah berhenti dari Telkom, TS sempat menjadi vendor penyedia alat penguat sinyal tersebut. Walhasil, TS mengetahui penjual dan pembeli modul BTS itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Punya link di Amerika, Malaysia, Cina, Afrika, dan India. Alat ini selama masih aktif dibutuhkan negara-negara tersebut," ujar Yusri.
 
TS, kata dia, berpikir jual beli alat penguat sinyal itu menghasilkan keuntungan besar. Dia lalu memulai kejahatan dengan mempekerjakan delapan orang untuk mencuri modul BTS pada 2014.
 
Satu modul BTS hasil curian dijual Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Untuk luar negeri, seperti Amerika, Tiongkok, Malaysia, Afrika, dan India, harga yang dipasang US$200 (Rp2,9 juta) hingga US$300 (Rp4,3 juta) per unit.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif