Eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia Persero, Emirsyah Satar. Foto: MI/Susanto
Eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia Persero, Emirsyah Satar. Foto: MI/Susanto

Emirsyah Satar Ajukan Banding

Nasional emirsyah satar tersangka
Candra Yuri Nuralam • 15 Mei 2020 16:49
Jakarta: Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengajukan banding atas vonis perkara penerimaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia. Emirsyah diberi vonis delapan tahun penjara.
 
"Adapun terdakwa Emirsyah Satar berdasarkan informasi yang kami terima, terdakwa menyatakan upaya hukum banding," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Jumat 15 Mei 2020.
 
KPK mempersilakan Emirsyah mengajukan banding. Lembaga Antirasuah memilih tak ikut membalas banding Emirsyah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"KPK setelah mempelajari pertimbangan majelis hakim maka menyatakan sikap menerima putusan dengan alasan antara lain fakta-fakta yuridis sebagaimana uraian di dalam tuntutan JPU KPK telah diambil alih oleh Majelis Hakim," ujar Ali.
 
Baca: Emirsyah Satar Divonis 8 Tahun Penjara
 
Majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta memberi vonis delapan tahun penjara untuk Emirsyah Satar. Emirsyah terbukti menerima suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia.
 
"Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama delapan tahun dan denda sebesar Rp1 miliar, subsider kurungan selama tiga bulan penjara," kata Hakim Ketua Rosmina saat menjatuhkan putusan sidang kasus Emirsyah Satar lewat telekonferensi video di Jakarta, Jumat 8 Mei 2020.
 
Emirsyah juga diminta membayar uang pengganti sebesar 2,11 juta dolar Singapura (Rp22,32 miliar, kurs 1 dolar Singapura=Rp10.500). Hukuman penjara Emirsyah akan diperpanjang dua tahun jika tidak membayarkan uang tersebut.
 
Putusan penjara Emirsyah lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang meminta hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp10 miliar kepada majelis hakim. Meski begitu, besaran uang pengganti putusan sama dengan yang diminta oleh JPU.
 
Baca:Eks Dirut Garuda Indonesia Dituntut 12 Tahun Penjara
 
Emirsyah juga diyakini melakukan TPPU Rp87,4 miliar. Perbuatan TPPU itu dilakukan lewat tujuh cara, mulai dari transfer uang hingga membayar utang kredit.
 
Dalam perkara suap, Emirsyah dianggap melanggar Pasal 12 huruf b Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan dalam kasus TPPU, Emirsyah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 

(SUR)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif