Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Polisi Terus Telusuri Aliran Dana Kasus Winda Earl

Nasional polri kasus penggelapan kasus pembobolan dana
Siti Yona Hukmana • 25 November 2020 18:56
Jakarta: Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri terus menelusuri aliran dana dalam kasus pembobolan dana nasabah Maybank milik atlet e-Sport Winda Lunardi alias Winda Earl. Polisi belum menetapkan tersangka baru dalam kasus tersebut.
 
"Tadi saya telepon penyidiknya bahwasanya sampai sekarang masih melaksanakan penelusuran aliran dananya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 25 November 2020.
 
Awi mengatakan penyidik sudah merampungkan proses pemeriksaan. Baik terhadap tersangka maupun saksi-saksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Polisi berencana melakukan gelar perkara untuk menetapkan tersangka dari penerima dana Winda. Namun, Awi belum dapat memastikan waktu pelaksanaan gelar perkara tersebut.
 
"Kita lihat jadwalnya kapan, kita tunggu saja, saya tidak bisa menyampaikan detailnya karena kami menunggu jadwal para penyidiknya," ujar jenderal bintang satu itu.
 
Baca: Penerima Dana Kasus Winda Earl Segera Jadi Tersangka
 
Kuasa hukum Maybank, Hotman Paris Hutapea, menyebut ada delapan penerima uang Winda Earl. Salah satunya, ayah Winda, Herman Lunardi.
 
"Di luar Herman Lunardi dan Winda, ada enam pihak lain. Antara lain memang saudara dari Kepala Cabang (Maybank Cipulir AT) yang terima uang," kata Hotman dalam konferensi pers Maybank, Senin, 9 November 2020.
 
AT ditetapkan sebagai tersangka pada 6 November 2020. Bisnis manajer Maybank itu menggasak uang Winda Earl mencapai Rp22 miliar dan menyerahkan ke temannya untuk investasi.
 
Polisi telah menyita aset tersangka berupa mobil, tanah dan bangunan. Tersangka AT dijerat Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dengan ancaman hukuman pidana penjara delapan tahun atau denda maksimal Rp100 miliar.
 
Kemudian, Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Ancaman hukumannya paling lama 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp10 miliar.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif