Konferensi pers penetapan tersangka suap perpajakan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 4 Mei 2021. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Konferensi pers penetapan tersangka suap perpajakan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 4 Mei 2021. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam

KPK Akan Memelototi Penghitungan Ulang Pajak Penyuap Angin Prayitno

Nasional KPK Kasus Suap kasus korupsi
Candra Yuri Nuralam • 05 Mei 2021 07:58
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana menghitung ulang pajak penyuap mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Angin Prayitno Aji. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memelototi proses penghitungan ulang tersebut.
 
"KPK akan melakukan pengawasan dan apabila dibutuhkan akan mendampingi proses penghitungan ulang pajak tersebut," kata Ketua KPK Firli Bahuri dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 4 Mei 2021.
 
Firli mengatakan KPK akan memastikan tidak ada lagi praktik korupsi dalam penghitungan ulang pajak itu. Seluruh petugas yang menghitung ulang duit pajak diminta jujur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Firli juga meminta seluruh wajib pajak membayarkan kewajibannya secara penuh. Dia berharap wajib pajak tidak ada lagi yang menyuap petugas untuk mengurangi nilai pajak.
 
"Pajak adalah salah satu sumber penerimaan negara yang utama yang digunakan untuk pembangunan negara. Akan sangat merugikan bangsa dan negara jika penerimaan pajak direkayasa untuk kepentingan dan keuntungan pihak tertentu," ujar Firli.
 
Kemenkeu membentuk tim untuk menghitung ulang pajak perusahaan yang menyuap Angin. Angin diduga mengatur pajak kliennya agar bisa membayar lebih murah.
 
"Terhadap wajib pajak yang terlibat kasus suap ini sedang dilakukan pemeriksaan ulang untuk melihat adanya potensi penerimaan yang menjadi hak negara yang belum disetorkan ke kas negara," kata Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenkeu Sumiyati di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.
 
Baca: Kemenkeu: Kasus Korupsi Angin Prayitno Aji Tak Bisa Ditoleransi
 
Kemenkeu akan memastikan penyuap Angin membayar pajak sesuai dengan nominal kewajibannya. Pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan negeri dan penanganan covid-19.
 
Sumiyati juga memastikan tidak ada lagi korupsi dalam penghitungan ulang pajak ini. Penghitungan ulang bakal melibatkan banyak pihak.
    
KPK menetapkan Angin bersama lima orang lainnya tersangka kasus korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait pemeriksaan perpajakan pada 2016- 2017 di Ditjen Pajak. Mereka, yakni Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan pada Ditjen Pajak Dadan Ramdani; dan dua orang konsultan pajak dari PT GMP, Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Maghribi.
 
Lalu, KPK juga menetapkan dua kuasa wajib pajak PT BPI Veronika Lindawati, dan kuasa pajak PT JB Agus Susetyo sebagai tersangka. Mereka diduga kongkalikong memanipulasi pajak untuk mendapatkan keuntungan sendiri.
 
Angin diduga menyalahgunakan kewenangannya bersama dengan Dadan untuk mengakomodasi jumlah kewajiban pajak sesuai keinginan wajib pajak. Kedua orang itu bekerja sama melakukan pemeriksaan pajak yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
 
Angin diduga menerima Rp15 Miliar dari PT GMP dalam periode Januari-Februari pada 2018. Angin juga diduga menerima SGD500 ribu dari kesepakatan Rp25 miliar. Uang itu diberikan PT BPI di pertengahan 2018. Lalu, Angin diduga menerima SGD3 juta dari PT JB pada Juli-September 2018.
 
Angin dan Dadan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.
 
Ryan, Aulia, Veronika, dan Agus disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun di 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif