NEWSTICKER
Pakar hukum pidana pencucian uang, Yenti Garnasih. Foto: Medcom.id/Damar Iradat
Pakar hukum pidana pencucian uang, Yenti Garnasih. Foto: Medcom.id/Damar Iradat

Wahyu Setiawan Diduga Menipu Harun Masiku

Nasional pdip OTT KPK
Fachri Audhia Hafiez • 19 Januari 2020 17:11
Jakarta: Pakar hukum pidana pencucian uang, Yenti Garnasih, menduga eks Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan melakukan penipuan. Wahyu disebut mengimingi politikus PDI Perjuangan Harun Masiku lolos penggantian antarwaktu (PAW) calon anggota DPR.
 
"Meski inisiatif dari penyuap bisa jadi di kronologi berikutnya mungkin penyuap mau mundur, malah dari KPU yang menawarkan atau malah memeras," kata Yenti dalam diskusi bertajuk 'Ada Apa di Balik Kasus Wahyu?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu, 19 Januari 2020.
 
Yenti meminta Lembaga Antirasuah memerinci kronologi kasus rasuah tersebut. Hal ini guna mempelajari modus pelaku sekaligus mencari tahu titik awal kejahatan tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemudian bagaimana pada akhirnya penyuap memberikan padahal menurut KPU tidak mungkin kalau tidak kolektif kolegial." ujar Yenti.
 
Kasus yang menjerat Wahyu berawal saat meninggalnya caleg DPR terpilih PDI Perjuangan Nazaruddin Kiemas. Wafatnya Nazaruddin membuat partai mesti mencari pengganti.
 
PDI Perjuangan berpatokan pada putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyebut partai penentu suara dan pengganti antarwaktu (PAW). PDI Perjuangan mengirim surat ke KPU guna menetapkan Harun Masiku. KPU menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti mendiang Nazaruddin.
 
Harun melalui mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina melobi Wahyu. Wahyu menyanggupi membantu dan meminta dana operasional Rp900 juta.
 
KPU melalui rapat pleno tetap mementahkan permohonan PDI Perjuangan yang meminta Harun Masiku sebagai PAW dan tetap pada keputusan awal. KPU berpegang pada Pasal 426 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
 
Aturan menyebut bila caleg meninggal, maka posisinya diganti dengan caleg dari partai dan daerah pemilihan yang sama dengan perolehan jumlah suara terbesar di urutan berikutnya.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif