Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Mohammad Iqbal - Medcom.id/Arga Sumantri.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Mohammad Iqbal - Medcom.id/Arga Sumantri.

Polisi Sebut Mustofa Kerap Buat Onar di Medsos

Nasional ujaran kebencian hoax
Faisal Abdalla • 27 Mei 2019 20:08
Jakarta: Mabes Polri angkat suara terkait penangkapan dan penahanan Mustofa Nahrawardaya. Dia ditangkap karena dianggap memutarbalikkan fakta terkait insiden kerusuhan 22 Mei 2019 lalu.
 
"Sudah dijelaskan Pak Dedi (Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo) sudah jelas bahwa yang bersangkutan memutarbalikkan fakta," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Mohammad Iqbal, di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019.
 
Iqbal mengatakan fakta yang dimaksud adalah terkait video viral yang merekam tindakan eksesif anggota Brimob. Menurut Iqbal, Mustofa mengaitkan tindakan Brimob itu terhadap seorang korban meninggal bernama Harun Al Rasyid.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal, tak ditemukan luka lebam pada jasad Harun Al Rasyid. Harun diduga meninggal karena luka tembak.
 
Iqbal menyebut Polri sudah mengetahui jejak digital Mustofa. Pria yang merupakan anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu kerap membuat onar di media sosial.
 
"Itu membuat onar dan track record tahu sendiri. Itu di media sudah banyak track record saudara M. Ini untuk mengingatkan semua," ujarnya.
 
(Baca juga:Mustofa Nahrawardaya Mengakui Menyebar Hoaks)
 
Tersangka kasus ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong Mustofa Nahrawardaya terancam hukuman penjara lima tahun lebih. Dia menyebarkan berita bohong terkait kericuhan Rabu, 22 Mei 2019, lewat cuitan di akun Twitter pribadinya @AkunTofa.
 
"Yang bersangkutan oleh penyidik disangkakan melanggar Pasal 45 huruf a yaitu Pasal 28 UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) dan Pasal 14 ayat 1 dan 2 serta Pasal 15 UU 1 tahun 1946, ancaman hukuman di atas 5 tahun," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 27 Mei 2019.
 
Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu sudah ditahan Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri selama 20 hari ke depan. Polisi bakal mengusut narasi beserta video dan foto di media sosial dari Mustofa yang meresahkan masyarakat.
 
Diketahui, perintah penangkapan Mustofa tertuang dalam Surat Perintah Penangkapan bernomor SP Kap/61 V/ 2019/ Dittpidsiber. Mustofa diduga melanggar pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU ITE dan atau Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif