Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Hakim ke Satpam Kompleks Polri Soal Momen Ganti CCTV: Terima Imbalan?

Fachri Audhia Hafiez • 25 November 2022 20:33
Jakarta: Ketua Majelis Hakim Ahmad Suhel mencecar petugas satuan pengamanan (satpam) Kompleks Polri, Jakarta Selatan, dalam sidang lanjutan kasus obstruction of justice terkait pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Satpam itu bernama Abdul Zapar.
 
Awalnya, Zapar menceritakan soal anggota polisi yang mendatanginya ke pos satpam. Polisi yang berjumlah tiga orang itu akan mengganti DVR CCTV.
 
"Mereka ingin melakukan untuk mengganti DVR yang baru, setelah itu mereka keluar lagi," kata Zapar saat persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jumat, 25 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Polisi tersebut mencegah Zapar untuk melapor ke Ketua RT 05 RW 01 Kompleks Polri, Seno Sukarto. Zapar juga dilarang menelepon Seno.
 
"Saya bilang 'apa ini tidak jadi masalah?' Setelah itu saya mau menelepon Pak RT, dia bilang lagi 'itu mau nelepon siapa Pak', saya bilang 'Pak RT, Pak', (kata polisi) tidak usah," ujar Zapar.
 

Baca: Kubu Irfan Widyanto Klaim Korban Kebohongan Ferdy Sambo


Zapar juga dicecar hakim karena tak mengawasi langsung pergantian DVR CCTV. Padahal, ada CCTV yang mengarah ke kediaman dinas Ferdy Sambo. Zapar hanya diam di area parkir motor.
 
"Saudara kan tau DVR itu disimpan rekaman, apa itu tidak saudara larang karena ada data simpan? Atau saudara tidak begitu penting kalau diganti ataupun tidak diganti?," ucap Hakim Suhel.
 
"Bahwa memperbagus kualitas gambar, saya pikir itu lebih bagus," kata Zapar.
 
"Saudara ini satpam ya, diganti itu kan ada alatnya, kalau mau diganti itu ada pengaruhnya enggak, nanti ada tidak alat simpan? Kok tidak terpikir saudara seperti itu?," tanya Hakim Suhel.
 
"Saya tidak terpikir," ucap Zapar.
 
Hakim Suhel menanyakan apakah Zapar menerima imbalan. Karena dengan mudahnya membiarkan polisi mengganti DVR CCTV.
 
"Siapapun ada imbalan yang saudara terima?," tanya Hakim Suhel.
 
"Tidak," jawab Zapar.
 
"Lalu kenapa saudara bisa begitu? Tidak mencurigai kalau itu ada alat untuk merekam di situ?," tanya Hakim Suhel.
 
"Saya sempat curiga Pak," ujar Zapar.
 
"Kalau saudara curiga, saudara harusnya berpikir, seorang satpam bagaimana sih. Makanya saya tanyakan ada imbalan yang saudara terima?," tegas Hakim Suhel.
 
"Tidak ada," ujar Zapar.
 
Pada dakwaan disebutkan sosok polisi yang mengganti DVR CCTV ialah Irfan Widyanto. Dia juga merupakan terdakwa dalam perkara ini.
 
Zapar dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Arif Rachman Arifin. Arif didakwa terlibat kasus obstruction of justice dalam perkara pembunuhan berencana Brigadir J.
 
Perbuatan itu dilakukan bersama-sama Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria Adi Purnama, Irfan Widyanto, Baiquni Wibowo, Chuck Putranto, serta Ferdy Sambo. Mereka juga berstatus terdakwa dalam perkara ini.
 
Mereka didakwa melanggar Pasal 49 jo Pasal 33 subsider Pasal 48 Jo Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Atau diancam dengan pidana dalam Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 ayat (1) ke-2 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
(AZF)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif