Hakim Minta Rekaman CCTV RS Medika tak Diberikan Sembarangan

Faisal Abdalla 30 April 2018 14:52 WIB
korupsi e-ktp
Hakim Minta Rekaman CCTV RS Medika tak Diberikan Sembarangan
Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus korupsi KTP elektronik Fredrich Yunadi (kiri) bersama dengan penasehat hukumnya mendengarkanketrangan saksi pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (26/4/2018). Foto: MI/Mohamad Irfan
Jakarta: Hakim Pengadilan Tipikor menyarankan rekaman CCTV terdakwa kasus korupsi KTP-el, Setya Novanto masuk RS Medika Permata Hijau pada malam hari dijaga dengan baik. Hakim meminta rekaman itu tak diberikan sembarangan kepada orang lain.

Hal itu disampaikan hakim anggota pengganti JM Lumban Gaol di persidangan lanjutan perkara merintangi penyidikan kasus korupsi KTP-el, dengan terdakwa eks kuasa hukum Novanto, Fredrich Yunadi.

"Hati-hati ini hanya pesan ya kalau ada yang ingin meminta (rekaman) itu lagi karena ini sudah jadi perkara, jangan coba-coba memberikannya, apalagi yang berkaitan dengan data tanggal 16 (November 2017) ini, jangan kasih ke siapapun," kata Hakim JM Lumban di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin, 30 April 2018.


Baca juga: Kubu Fredrich Keberatan Jaksa Putarkan Rekaman CCTV

Hakim JM Lumban mengatakan rekaman tersebut sudah menjadi alat bukti yang menentukan. Namun begitu, ia mempersilahkan jika penegak hukum, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta rekaman CCTV.

"Kalau KPK atau kepolisian silahkan, yang penting tolong diamankan, kita butuh (rekaman) yang asli dan sama persis dengan yang (diberikan) di KPK. Supaya aman," kata dia.

Pernyataan hakim ini bertentangan dengan argumen kubu Fredrich. Kubu Fredrich bersikeras rekaman CCTV yang didapat KPK dari pihak rumah sakit tidak sah.

Baca juga: Fredrich Siapkan Skenario Novanto Gila di Persidangan

"Kami keberatan dengan barang bukti (rekaman CCTV) sebagaimana sidang-sidang sebelumnya, bahwa barang bukti ini secara diperoleh tidak sah sesuai UU Tipikor pasal 28, harus ada penetapan dari pengadilan. Kami menolak barang bukti ini," kata Kuasa Hukum Fredrich, Sapriyanto Refa.

Namun begitu, Majelis Hakim tetap mengijinkan Jaksa KPK memutar rekaman tersebut. Majelis meminta keberatan kubu Fredrich dicatat saja dalam pembelaan.





(MBM)