Suasana sidang perdana kasus dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 3 Juni 2020. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Suasana sidang perdana kasus dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 3 Juni 2020. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

2 Tersangka Kasus Jiwasraya Didakwa Berlapis

Nasional Jiwasraya
Fachri Audhia Hafiez • 04 Juni 2020 02:14
Jakarta: Dua tersangka kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan investasi saham dan Reksa Dana PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tak hanya didakwa merugikan negara sebesar Rp16,8 triliun. Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat dan Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro disebut melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
 
"Telah menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain, atas harta kekayaan yang diketahuinya," kata jaksa penuntut umum Ardito Muwardi saat membacakan surat dakwaan Heru di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 3 Juni 2020.
 
Menurut jaksa, Heru menggunakan uang hasil korupsi untuk membeli tanah dan bangunan. Uang rasuah itu juga dipakai untuk mengakuisisi perseroan, pembelian kendaraan bermotor, pembelian saham, dan valuta asing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jaksa menuturkan TPPU itu hasil korupsi dalam pengelolaan investasi saham dan reksa dana PT Asuransi Jiwasraya. Perbuatan itu dilakukan pada 2008-2018.
 
Pembelian tanah dan bangunan seluas 779 meter persegi berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan; Tanah dan bangunan seluas 345 meter persegi di Jalan Patal Senayan Nomor 23, Jakarta Selatan. Kemudian, tanah dan bangunan seluas 345 meter persegi di Patal Senayan Nomor 23 B, Jakarta Selatan.
 
Pembelian tanah juga dilakukan atas nama Utomo Puspo Suharto. Rinciannya, tanah dan bangunan seluas 660 meter persegi di Menteng, Jakarta Pusat; tanah dan bangunan di Bumi Serpong Damai (BSD) seharga Rp1,5 miliar yang kemudian dijual kembali ke pengusaha Joko Hartono Tirto sebesar Rp2,5 miliar; dan tanah dan bangunan di Alam Sutra seharga Rp1,3 miliar yang kemudian dijual kembali oleh Joko Tirto dengan harga Rp2 miliar.
 
Heru juga menyamarkan harta kekayaan dengan membeli sejumlah kendaraan, yakni satu mobil Landrover; dua mobil Toyota Vellfire 2.5G A/T atas nama Ratnawati Wiharjo; satu mobil Lexus RX 300 Luxury 4x2 atas nama PT Halimas Mandiri; dan satu mobil merek Toyota atas nama PT Inti Kapuas Internasional.
 
TPPU yang dilakukan Benny Tjokrosaputro juga serupa. Nilai TPPU yang digunakan Benny berkisar puluhan miliar rupiah. Selain itu, pencucian uang yang dilakukan Benny berupa membeli tanah, membayar bunga bank, membeli saham, pembangunan rumah, dan menukarkan sejumlah mata uang asing.
 
Benny juga mengalihkan uang hasil korupsinya itu dengan membeli 92 unit apartemen dengan atas nama yang berbeda-beda. Dia juga disebut membeli empat unit apartemen di luar negeri.
 
"Uang yang digunakan oleh terdakwa bersumberkan dari kejahatan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa selaku pihak yang mengatur dan mengendalikan instrumen pengelolaan investasi saham dan Reksa Dana PT Asuransi Jiwasraya (AJS) Persero sehingga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp16,8 triliun," ujar jaksa penuntut umum Bima Suprayoga.
 
Baca: Benny Tjokrosaputro Didakwa Mencuci Uang
 
Atas perbuatannya, Heru dan Benny dinilai melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif