Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto
Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto

Jokowi Diharapkan Bentuk Tim Gabungan Independen Kasus Novel

Nasional novel baswedan
Juven Martua Sitompul • 20 Juli 2019 06:38
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih berharap Polri serius menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan. Paling penting, polisi bisa menemukan pelaku dan otak di balik teror keji tersebut.
 
Hal ini disampaikan KPK merespon pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengultimatum Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk segera mengungkap kasus teror Novel. Tito Karnavian bahkan diberi waktu tiga bulan menangkap pelaku dan dalang.
 
"Kita tidak boleh berhenti berharap upaya untuk pencarian itu perlu didukung semua pihak. Bagi KPK sederhana saja, poin krusialnya adalah pelaku ditemukan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 19 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lembaga Antirasuah menghormati sikap Jokowi. Hanya saja, kata Febri, Jokowi perlu mempertimbangkan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen yang bertanggungjawab langsung kepada presiden.
 
"Fokus KPK bukan pada pilihan kebijakannya tapi kami berharap kita berupaya melakukan pencarian pelaku lapangan dan pelaku yang menyuruh ataupun aktor intelektual serangan itu," kata Febri.
 
Baca: Misi Terselubung TGPF Novel Baswedan
 
Menurut Febri, selain kasus Novel, masih banyak pekerjaan rumah polisi yang belum selesai. Salah satunya, teror terhadap dua pimpinan KPK yakni Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.
 
"Jadi jangan sampai ada persepsi publik teror terhadap penegak hukum tidak akan selesai ditangani. Kami berharap itu tidak terjadi," pungkas Febri.
 
Tim khusus bentukan Tito Karnavian gagal mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Padahal, tim khusus ini memiliki waktu 6 bulan untuk mengungkap kasus tersebut.
 
Dari hasil 6 bulan kerjanya, tim ini hanya dapat menyimpulkan sejumlah kemungkinan motif dari penyerangan terhadap Novel. Salah satunya, penggunaan kewenangan secara berlebihan dari Novel.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif