AY, 32, simpatisan FPI yang jadi tersangka penyebar berita hoaks dan ujaran kebencian (kedua dari kanan). Foto: Medcom.id/Cindy
AY, 32, simpatisan FPI yang jadi tersangka penyebar berita hoaks dan ujaran kebencian (kedua dari kanan). Foto: Medcom.id/Cindy

Simpatisan FPI Penyebar Hoaks Diringkus

Nasional hoax
Cindy • 28 Juni 2019 16:07
Jakarta: AY, 32, penyebar berita hoaks dan ujaran kebencian, diringkus Direktorat Tindak Pidana (Dittipid) Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Simpatisan Front Pembela Islam (FPI) itu merupakan aktor propaganda di media sosial.
 
"AY ini merupakan kreator maupun modifikator dengan menggunakan aplikasi dan alat tertentu untuk membuat gambar dan video," kata Kepala Subdirektorat II Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 28 Juni 2019.
 
AY ditangkap karena memiliki tiga akun penyebar hoaks di media sosial Instagram dan YouTube. Dia diringkus di Jalan Kaum 2 Nomor 97 RT 05/RW 04, Karadenan, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Akun media sosial Instagramnya dengan nama wb.official.id dan whitebaret. Akun di kanal YouTubenya dengan nama inisial MCA," ungkap Rickynaldo.
 
Ketiga akun tersebut memiliki pengikut hingga 20 ribu orang dan telah membuat 298 konten. Sebagian dari konten tersebut mengandung unsur pidana karena menghina pemerintah.
 
"Seperti Presiden (Joko Widodo), menteri-menteri kabinet, Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Polri, Kemenko Polhukam (Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan) dan lainnya," ucap Rickynaldo.
 
Baca: Polisi Tak Soal Rahmat Baequni Kembali Berceramah
 
Rickynaldo menuturkan tersangka AY kerap kali membuat propaganda FPI dengan nama Whitebaret. Aksi itu menyesatkan serta menimbulkan kebencian dan mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
 
"Dan menyebarkan berita bohong menyebabkan keonaran di masyarakat," ujar Rickynaldo.
 
Tersangka dikenai Pasal 45 A ayat (2) juncto 28 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau 207 KUHP. Tersangka diancam hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif