Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. MI/Bary Fathahilah
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. MI/Bary Fathahilah

Permohonan Penangguhan Penahanan Habil Marati Masih Dikaji

Nasional pembunuhan kasus makar
Siti Yona Hukmana • 14 Juli 2019 14:57
Jakarta: Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya telah menerima surat permohonan penangguhan penahanan Habil Marati, tersangka dugaan percobaan pembunuhan. Polisi masih mengkaji permohonan tersebut.
 
"Penyidik sedang mengevaluasi ya untuk dikabulkan atau tidak permohonannya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu, 14 Juli 2019.
 
Dikonfirmasi terpisah, pengacara Habil Yusril Ihza Mahendra menyebut surat permohonan penangguhan penahanan itu diserahkan pada Rabu, 10 Juli 2019. Tim kuasa hukum masih menunggu jawaban polisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Iya kita sudah ajukan saat saya datang ke Polda metro Jaya bertemu Habil. Hingga saat ini kata polisi masih diproses," kata Yusril.
 
Baca: Yusril Ingin Menjernihkan Kasus Habil Marati
 
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu resmi menjadi kuasa hukum Habil sejak 10 Juli 2019. Habil sendiri yang meminta Yusril menjadi penasihat hukumnya. Yusril menyanggupi dengan alasan ingin menjernihkan kasus Habil.
 
Habil Marati disebut sebagai donatur eksekutor empat pejabat negara yang menjadi target pembunuhan. Ia menyerahkan uang Rp60 juta kepada para calon eksekutor. Namanya disebut dalam investigasi majalah Tempo yang berjudul 'Tim Mawar dan Rusuh Sarinah' yang terbit pada Senin, 10 Juni 2019.
 
Habil telah ditahan polisi di Polda Metro Jaya. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar SGD15 ribu atau setara Rp150 juta.
 
Kivlan disebut memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk menembak Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif