Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya. Foto: Medcom/Intan
Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya. Foto: Medcom/Intan

Ombudsman Bentuk Tim Khusus untuk Selidiki Kasus Jiwasraya

Nasional Jiwasraya
Intan Yunelia • 18 Januari 2020 13:21
Jakarta: Ombudsman akan menurunkan tim khusus untuk menyelidiki lemahnya pengawasan hingga kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Ombudsman mempertanyakan kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kasus Jiwasraya.
 
"Kami melakukan upaya review kasus ini. Kami rencana bikin tim khusus untuk turun sendiri," kata Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya saat diskusi Populi Center dengan topik 'Mencoba Mengerti Kerumitan Masalah Jiwasraya', di The MAJ Senayan, Jakarta, Sabtu, 18 Januari 2020.
 
Menurutnya, ada dugaan Jiwasraya sengaja main mata dengan perusahaan lain dengan tujuan investasi. Semata demi mendongkrak nilai saham perusahaan meski cukup berisiko.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami juga ingin lihat titik-titik krusial yang harus ditindaklanjuti misalkan ada tadi kemungkinan konkalikong antara beberapa asuransi BUMN dengan perusahaan-perusahaan yang ditanamkan dana dari perusahaan asuran ini," ujar Dadan.
 
Ombudsman mencurigai laporan tahunan Jiwasraya yang tidak bisa diakses oleh publik. Kejanggalan tata kelola ini lah yang menjadi tugas dari tim khusus dari Ombudsman.
 
"Kami punya kewajiban publikasi laporan keuangan penting. Karena ada laporan keuangan yang tidak utuh dan sesuatu yang ditampilkan tidak bisa dibaca oleh publik. Kecurigaan dari kami laporan tahunan ditempatkan ditempat lain tidak bisa dipublikasi atau diakses," tandasnya.
 
Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi sejak 2014 sampai dengan 2018.
 
Jiwasraya melalui unit kerja pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi berkisar antara 6,5 persen dan 10 persen sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.
 
Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen. Secara umum, RBC adalah pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.
 
Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan dana Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi sebesar Rp1 triliun dan sumber dana lain dari pemegang saham sebesar Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut sebesar Rp32,89 triliun.
 
Saat ini ada delapan perusahaan yang tertarik menyuntikan dana untuk pemulihan Jiwasraya. Nantinya satu perusahaan dengan penawaran terbaik akan dipilih untuk menjadi pemegang saham di Jiwasraya Putra sebagai anak usaha dari Jiwasraya.
 
Jiwasraya Putra telah membuat perjanjian kerjasama distribusi, salah satunya melalui kerja sama kanal pemasaran bancassurance. Kerja sama tersebut akan menggandeng perusahaan BUMN seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pegadaian, PT Telekomunikasi Seluler, dan PT Kereta Api Indonesia.
 

 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif