Rilis penangkapan narapidana pencatut nama pejabat. Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Rilis penangkapan narapidana pencatut nama pejabat. Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Empat Narapidana Mencatut Nama Pejabat Negara buat Menipu

Nasional penipuan
Siti Yona Hukmana • 10 Agustus 2020 18:31
Jakarta: Sebanyak empat narapidana kasus narkotika di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kuningan Kelas II A, Jawa Barat, melakukan tindak pidana penipuan dengan mengaku sebagai pejabat negara. Keempatnya, yakni DA, 32; K, 37; JS, 41 dan DK, 30, salah satunya mencatut Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi
 
"Selain mencatut nama Menlu, juga mencatut nama Kedubes Indonesia di 17 negara, konsulat jenderal dan anggota DPR," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 10 Agustus 2010.
 
Kasus ini diungkap oleh Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri bersama Polres Kuningan dan Lapas Kelas II A Kuningan, Jawa Barat pada Jumat, 7 Agustus 2020. Penyelidikan berbekal laporan masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Direktur Tindak Pidana Siber (Dirtipidsiber) Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi, mengatakan ke-17 negara yang menjadi korban itu adalah Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, Belanda, Rusia, Jepang, Brunei Darussalam, Sudan, Singapura, Uni Emirat Arab, Malaysia, Australia, Korea Utara, Arab Saudi, Meksiko, Belgia dan Spanyol. Aksi penipuan itu dilakukan dari dalam Lapas.
 
"Total korban semua 26 orang," ucapnya.
 
Modus operandi pelaku, kata Slamet, dengan membuat akun WhatsApp. Dalam masing-masing akun WhatsApp itu mencantumkan identitas dan profil Menlu Retno Marsudi, Duta Besar Indonesia di 17 negara, Konsulat jenderal dan anggota DPR.
 
"Mereka melakukan penipuan dengan bepura-pura jual beli kurma, menjadi keluarga dari salah satu pejabat yang membutuhkan uang terkait dengan dana pemulangan dan administrasi untuk ke Indonesia," ujar Slamet.
 
Baca: Praktik Dokter Gigi Ilegal di Bekasi Dibongkar
 
Slamet menyebut aksi keempat pelaku berhasil. Kerugian akibat perbuatan para pelaku mencapai Rp332 juta.
 
"Tentunya motifnya ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, para terpidana itu," kata Slamet.
 
Polisi menyita sejumlah barang bukti dalam kasus ini. Menyita empat handphone dan satu modem di dalam kamar tahanan nomor 23 yang diisi oleh tersangka DA.
 
Kemudian, pada kamar nomor 22 yang diisi tersangka K disita lima unit handphone, dua modem, satu kartu ATM, dan satu buku tabungan. Terakhir, di kamar nomor 20 yang diisi tersangka JS dan DK disita tujuh handphone, 11 buah simcard, dua kartu sim dan narkotika jenis sabu seberat 131, 35 gram.
 
"Berkisar Rp200 juta lebih estimasi kita nilai semuanya," kata Slamet.
 
Keempat tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 45 a Ayat (1) jo Pasal 48 ayat (1) dan/atau Pasal 51 ayat (1) jo Pasal 35 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 3 UU Nomor 8 tahun 2010 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
 
"Ancamannya pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar," tegas Slamet.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif