Ilustrasi pemeriksaan. Medcom.id
Ilustrasi pemeriksaan. Medcom.id

9 Orang Jadi Tersangka Kasus Penghentian Ibadah Natal di GPI Tulang Bawang

Nasional rumah ibadah polri Penegakan Hukum Natal
Siti Yona Hukmana • 26 Januari 2022 11:40
Jakarta: Polda Lampung kembali menetapkan delapan orang sebagai tersangka terkait kasus penghasutan dan penghentian ibadah Natal di Gereja Pantekosta Indonesia (GPI) Tulang Bawang. Total sembilan tersangka dalam kasus tersebut.
 
"Sebelumnya, kami telah menetapkan tersangka IM," kata Kasubdit 1 Kamneg Polda Lampung, AKBP Dodon Pryambodo dalam keterangan tertulis, Rabu, 26 Januari 2022.
 
Kedelapan orang yang baru ditetapkan tersangka berinisial AM, SM, PA, EH, TR, AK, EP, dan JS. Mereka ditetapkan tersangka pada Kamis, 20 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setelah dilakukan pengembangan lebih mendalam, dapat diketahui peran masing-masing dari para tersangka dalam penghentian ibadah Natal dan pemalangan pintu gereja, pada 25 Desember 2021 lalu," ujar Dodon.
 
Dodon membeberkan AM berperan menanyakan izin mendirikan bangunan. Sedangkan, SM dan PA berteriak memerintahkan untuk mematikan musik saat kegiatan ibadah.
 
Sementara itu, EH berperan mencari dukungan warga dengan mengumpulkan tanda tangan warga. Petisi itu untuk menutup Gereja Pantekosta Indonesia.
 
"Dalam melakukan tugasnya, EH dijanjikan uang pulsa senilai Rp50 ribu oleh tersangka IM," ungkap Dodon.
 
Kemudian, TR menerima banner dan ikut memasang kayu penghalang di pintu gereja. Lalu, AK mengancam Febe saat proses penyegelan pintu gereja.
 
"Tersangka EP ikut berperan memasang kayu penyegelan dan tersangka JS berperan menanyakan izin dari kegiatan gereja," beber dia.
 
Tersangka dijerat Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang nomor 1 Tahun 1946 Jo Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 160 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 156 a huruf (a) KUHP Jo Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 156 KUHP Jo 55 KUHP dan atau Pasal 175 KUHP Jo Pasal 55 KUHP. Dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.
 
Sebelumnya, tersangka telah melakukan penyegelan gereja dan menghalangi pelaksanaan ibadah tiga kali sejak 2018 hingga 2021. Terakhir pada 25 Desember 2021.  
 
Tersangka melarang jemaat beribadah dengan dalih Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri (Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) Nomor 8 dan 9 tahun 2006. Dalam SKB itu disebutkan bahwa pendirian rumah ibadah harus mendapat dukungan setidaknya 60 warga setempat dan harus ada rekomendasi tertulis dari Kepala Kantor Departemen Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat.
 
Baca: Intoleransi di Indonesia Capai 54 Persen, Ini Penyebabnya
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif