Ilustrasi BTN. DOK BTN
Ilustrasi BTN. DOK BTN

BTN Dukung Pengungkapan Kasus Gratifikasi Mantan Dirut

Nasional kasus korupsi BTN kejaksaan agung
Kautsar Widya Prabowo • 07 Oktober 2020 12:24
Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (BTN) Persero Tbk menghormati proses hukum terkait kasus gratifikasi yang menyeret mantan pejabat bank perusahaan pelat merah itu. Kejaksaan Agung menetapkan mantan Direktur Utama BTN Maryono sebagai tersangka.
 
"Bank BTN menghormati proses hukum dalam penyelesaian masalah tersebut," ujar Corporate Secretary BTN, Ari Kurniaman, di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2020.
 
Ari memastikan BTN akan membantu upaya penegakan hukum. BTN menerapkan asas praduga tidak bersalah terhadap Maryono sampai memiliki kekuatan hukum tetap.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ari mengungkapkan perusahaan telah menjalin kerja sama dengan Kejagung dalam mengungkap beberapa kasus pidana. Salah satunya menindak debitur nakal yang tidak membayar utang.
 
"Kami sudah melakukan MoU dengan Kejagung. Bahkan kami sudah terbantu dengan upaya Kejagung dalam memproses debitur nakal," tutur dia.
 
Sebelumnya, penyidik Kejagung menetapkan Maryono dan Direktur PT Pelangi Putera Mandiri, Yunan Anwar, sebagai tersangka. Maryono diduga menerima gratifikasi dari Yunan senilai Rp2,275 miliar.
 
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono menyebut kasus ini terjadi sekitar 2014. PT Pelangi Putera Mandiri mengajukan kredit sebesar Rp117 miliar. Saat ini, kredit tersebut dalam kondisi macet.
 
(Baca: Mantan Dirut BTN Diduga Menerima Gratifikasi Rp3,1 Miliar)
 
"Dan ternyata kredit ini bermasalah, sudah mengalami kolektibilitas 5," kata Hari di Gedung Kejagung, Selasa, 6 Oktober 2020.
 
Maryono juga disebut menerima gratifikasi dari PT Titanium Property senilai Rp870 juta. Penerimaan terkait pemberian kredit perusahaan senilai Rp160 miliar.
 
Hari menyebut uang suap ditransfer melalui rekekening menantu Maryono, Widi Kusuma Purwanto. Penyidik akan melakukan pengembangan terhadap temuan tersebut.
 
Maryono dijerat Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 5 Ayat (2) jo ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dibuah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1.
 
Sedangkan Yunan dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Keduanya langsung ditahan di Rumah Tahanan Guntur.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif