Penyidik KPK Novel Baswedan - Medcom.id/Arga Sumantri.
Penyidik KPK Novel Baswedan - Medcom.id/Arga Sumantri.

Pencekalan Novanto dan Penyobekan Buku Merah Membayangi Penyerangan Novel

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 24 Juni 2019 15:14
Jakarta: Anggota tim kuasa Hukum Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa, mengungkapkan kliennya diserang sehari setelah eks Ketua DPR Setya Novanto dilarang bepergian keluar negeri. Pencekalan itu terkait kasus korupsi proyek KTP berbasis elektronik (KTP-el) yang menjerat Novanto.
 
"Jadi, Novel Baswedan ini diserang pada 2017 lalu, sehari setelah Setnov dicekal," kata Alghiffari kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 24 Juni 2019.
 
Meski begitu, Alghiffari tak bisa menyimpulkan kliennya diserang orang-orang yang terlibat kasus KTP-el. Novel merupakan Kepala satuantTugas penanganan perkara dugaan korupsi proyek pengadaan KTP-el,

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apalagi, pada hari Novel diserang orang tak dikenal dengan air keras, Selasa, 11 April 2017, Novanto membuat pernyataan pers. Pada intinya, Novantoprihatin atas musibah yang menimpa Novel. Novanto meminta kepolisian mengusut tuntas kasus itu.
 
"Kejadian hari ini cukup memprihatinkan kita semua. Saya memandang perilaku tersebut tidak beradab dan tindakan kriminal yang harus diusut tuntas. Saya mengenal beliau sebagai sosok yang memiliki integritas dan profesionalitas yang tinggi," ucap Novanto saat itu.
 
Dia membeberkan peristiwa lain yang terjadi sebelum Novel Baswedan diserang, yakni penyobekan buku merah. Buku merah ini merupakan buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR, yang merupakan barang bukti kasus korupsi bos CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman. Buku itu berisi catatan aliran dana dari perusahaan Basuki ke sejumlah petinggi Polri.
 
(Baca juga:Novel Baswedan Sudah Diingatkan Potensi Ancaman Penyerangan)
 
Perusakan barang bukti ini diduga dilakukan oleh dua orang anggota Polri yang bertugas sebagai penyidik KPK. Mereka, yakni AKBP Roland Ronaldy dan Kompol Harun.
 
Roland dan Harun diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut dan membubuhkan tip ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari Basuki. Peristiwa ini terekam dalam CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017 lalu.
 
Catatan transaksi keuangan itu dibuat karyawan bagian keuangan CV Sumber Laut Perkasa, Kumala Dewi Sumartono. Penyidik KPK Surya Tarmiani pernah memeriksa Kumala sebagai saksi atas kasus itu. Keterangan Kumala tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pada 9 Maret 2017.
 
Alghiffari menyebut, Surya pernah akan ditabrak polisi saat ia dinas di Yogyakarta. Seorang polisi teman akrab Novel memberitahu perencanaan keji itu.
 
Kemudian, Novel segera mengabarkan Surya agar berhati-hati. Dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten Surya selamat sampai indekosnya di Setiabudi, Jakarta Selatan.
 
"Namun, Surya Tarmiani menerima musibah, yakni Laptop yang berisi BAP sejumlah kasus dirampok orang tak dikenal di Setiabudi, Jakarta Selatan. Ini terjadi seminggu sebelum Novel diserang. Maka ada beberapa kemungkinan kasus terkait dengan peristiwa yang menimpa Novel," ucap Alghiffari.
 
(Baca juga:Penyerang Novel Baswedan Diduga Terus Mengintai)
 
Peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Novel diserang itu juga menjadi pertanyaan yang muncul saat pemeriksaan pada Kamis, 20 Juni 2019 di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Ada lima penanya, yakni mantan Wakil Pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji; Ketua Setara Institut, Hendardi; Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti; mantan Komisioner Komnasham, Nur Kholis, dan Ifdhal Kasim. Pemeriksaan disaksikan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarief.
 
"Penyidik Polri di belakang semua. Biasanya kan penyidik-penyidik di depan laptop. Makanya BAP sampai sekarang belum ditanda tangan, karena belum diprint sama polisi, polisi bingung nuangin keterangan ke BAP-nya," terang Alghiffari.
 
Tim gabungan khusus dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019. Tim ini bertugas menyelidik dan menyidik kekerasan terhadap Novel selama enam bulan terhitung sejak 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif