Politikus Partai Hanura Ambroncius Nababan Dok. Istimewa
Politikus Partai Hanura Ambroncius Nababan Dok. Istimewa

Ambroncius Terancam Hukuman di Atas 5 Tahun Penjara

Nasional partai hanura ujaran kebencian
Siti Yona Hukmana • 26 Januari 2021 21:08
Jakarta: Politikus Partai Hanura Ambroncius Nababan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan ujaran kebencian yang berunsur rasisme terhadap mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. Ambroncius dijerat pasal berlapis. 
 
"Ancaman hukuman di atas lima tahun penjara," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 26 Januari 2021.
 
Ancaman pasal yang disangkakan kepada ketua umum Relawan Pro Jokowi-Amin (Projamin) itu, yakni Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE, ialah;
 
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45A ayat (2) UU ITE, yakni;
 
Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.
 
Kemudian, Pasal 16 jo Pasal 4 huruf b ayat (2) UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Ambroncius juga terancam dijerat dengan Pasal 156 KUHP tentang Penodaan Agama.
 
Bunyi Pasal 156 KUHP, ialah;
 
Barang siapa di muka umum menyatakan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangasaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.
 
Ancaman pidana Pasal 156 diatur dalam Pasal 156a, berbunyi;
 
Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun. 
 
Ambroncius tengah menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri. Penahanan terhadap Ambroncius ditentukan usai pemeriksaan. 
 
Baca: Berstatus Tersangka, Ambroncius 'Digiring' ke Bareskrim Polri
 
Ambroncius menjalani pemeriksaan pertama pada Senin, 25 Januari 2021. Dia dicecar 25 pertanyaan oleh penyidik seputar unggahannya di media sosial Facebook yang mengandung ujaran kebencian berunsur rasisme.
 
Dalam akun Facebook miliknya, Ambroncius mengunggah konten bersifat rasisme terhadap Natalius Pigai. Dia mengunggah foto kolase Natalius Pigai dan gorila.
 
Dalam foto tersebut, Ambroncius menyandingkan foto Natalius Pigai dengan gorila dan kadal gurun. Pada foto juga bertulis narasi.
 
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Vaksin sinovac itu dibuat untuk manusia bukan untuk gorila apalagi kadal gurun. Karena menurut UU Gorila dan kadal gurun tidak perlu divaksin. Paham?" ujar Ambroncius.
 
Ambroncius mengakui mengunggah foto dan narasi bernada rasis itu. Dia menyebut hal itu sebagai bentuk kritik terhadap pernyataan Natalius yang menolak serta tak percaya dengan vaksin sinovac covid-19. Dia menegaskan unggahan itu bukan untuk melakukan ujaran kebencian atau rasial terhadap aktivis Papua tersebut.
 
"Percakapannya saya yang buat, itu saya akui saya yang buat. Sifatnya itu satire (sindiran), kritik satire. Kalau orang cerdas, tahu itu satire, itu lelucon-lelucon, bukan tujuannya untuk menghina orang apalagi menghina suku dan agama, tidak ada. Jauh sekali, apalagi menghina Papua," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif