Deradikalisasi Seharusnya Tertutup
Terorisme. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Program deradikalisasi terhadap mantan narapidana terorisme diapresiasi sejumlah pihak. Namun, program ini dinilai bakal lebih efektif jika dilakukan secara tertutup.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib mengatakan program deradikalisasi membuat narapidana teroris bertobat dan kembali normal. Namun, hanya sedikit mantan narapidana itu yang kembali hidup normal dan mengajak jaringannya tobat.

"Salah satu penyebabnya adalah karena deradikalisasi itu dibuat secara terbuka, artinya bisa diidentifikasi orang per orang itu adalah agen pemerintah," kata Ridwan saat dihubungi Medcom.id, Senin, 22 Oktober 2018.


Ridwan mengatakan kelompok atau jaringan teroris tak akan menerima lagi individu yang telah bergabung dengan pemerintah. Walau individu itu guru atau tokoh dalam jaringan itu, mereka bakal ditolak.

Dia mencontohkan pentolan Jemaah Islamiyah Asia Tenggara Muhammad Nasir Abbas. Saat diketahui memiliki kedekatan dengan pemerintah dan polisi, Nasir dijauhi jaringannya.

"Itu langsung dicap kafir dan musuh, kalau sudah dicap kafir dan musuh kan sudah tidak mendapatkan akses ke jaringan itu," jelas Ridwan.

Baca: Terduga Teroris di Tanjungbalai Anggota JAD

Seharusnya, pemerintah menggelar program deradikalisasi secara tertutup. Dengan begitu, tokoh atau pentolan teroris yang telah lulus program deradikalisasi bisa kembali ke jaringannya dan mengajak anggota lain tobat.

"Lebih tertutup jadi efek merayu itu smooth, tidak keliatan orang. Jadi pertobatan berjalan normal," jelas dia.

Sementara itu, dia menilai kelompok teroris kerap menyasar masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Kelompok itu diduga rentan dan rawan direkrut sebagai anggota.






(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id