Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Azis. Medcom.id/Fachri Audia Hafiez.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Azis. Medcom.id/Fachri Audia Hafiez.

KPU Apresiasi Polri Ungkap Pembuat Hoaks

Nasional hoax
Theofilus Ifan Sucipto • 17 Juni 2019 22:21
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengapresiasi kepolisian yang berhasil menangkap pelaku pembuat hoaks sistem informasi penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum (Situng KPU), WN. Hoaks tersebut merugikan penyelenggara pemilu.
 
"KPU RI mengapresiasi Mabes Polri dalam hal ini Direktorat Cyber Crime yang membuktikan hoaks pemilu yang bertubi-tubi dialamatkan ke KPU dan Pemilu kita," kata Komisioner KPU Virzyan Azis di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 17 Juni 2019.
 
Viryan mengatakan pada prinsipkan Pemilu berbicara soal kepercayaan publik. KPU, kata dia, menghormati kebebasan setiap warga negara untuk memilih dan berpendapat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, lanjutnya, KPU merasa penting untuk menyelesaikan dan mengungkap hal-hal yang negatif. Salah satunya ketika muncul informasi yang tidak benar dan berdampak pada ketidakpercayaan kepada KPU serta mendelegitimasi proses serta hasil Pemilu.
 
Baca juga:Tersangka Pembuat Hoaks Situng KPU Menyesal
 
"Alhamdulillah sudah berhasil diungkap dan kami berharap bisa segera diproses dengan regulasi yang ada," ujar Viryan.
 
Dalam kesempatan itu, Viryan kembali menegaskan bahwa server KPU tidak ada di Singapura. Server KPU berada di Indonesia.
 
Selain itu, Viryan mengatakan tidak benar bahwa server KPU bocor. Meski sempat ada pihak yang mencoba meretas server KPU, server Situng KPU masih bisa diakses publik.
 
"Mengenai data 57 persen, itu tidak benar. Tidak benar KPU melakukan hal seperti itu," tandas dia.
 
Dia menyebut angka yang muncul di situng adalah suara masyarakat dari kertas suara. Kertas suara itu dicatat melalui formulir C1, direkap, dan dientri oleh petugas KPU di 514 kabupaten/kota.
 
Situng, kata Viryan, bukan dasar penentuan KPU menetapkan hasil Pemilu. Situng hanya sarana memudahkan publik mengakses informasi pergerakan suara Pemilu.
 
"Dengan selesainya rekapitulasi manual yang sudah kami lakukan pada Selasa, 21 Mei lalu, maka hasil KPU sudah final," jelas Viryan.
 
Baca juga:Kecerdasan Emosional, Bisa Lawan Informasi Bohong
 
Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menangkap WN pada Selasa, 11 Juni 2019 pukul 21.45 WIB. Dia ditangkap di Jalan Mangunrejan, Kelurahan Mojogeli, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.
 
"Tersangka diduga melakukan tindak pidana menyiarkan informasi bohong tentang bocornya server KPU yang sudah disetting 57 persen untuk salah satu pasangan calon tertentu," kata Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Rickynaldo Chairul, Senin 17 Juni 2019.
 
Rickynaldo menjelaskan WN membuat hoaks tersebut melalui sebuah video. Video itu dibuat saat WN diundang menjadi pembicara di rapat rutin koordinasi kemenangan relawan salah satu paslon di Banten.
 
Atas perbuatannya, WN dijerat Pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-undang (UU) Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 45 ayat 3 Jo Pasal 27 ayat 3 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik Pasal 310 KUHP dan atau Pasal 311 KUHP dan atau Pasal 207 KUHP.
 
"Denda ancaman pidana penjara setinggi-tingginya 10 tahun dan denda paling banyak Rp750 juta," pungkas Rickynaldo.

 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif