Suasana sidang tuntutan Sendy Pericho dan Alfin suherman. Foto: Medcom.id/ Ilham Pratama Putra.
Suasana sidang tuntutan Sendy Pericho dan Alfin suherman. Foto: Medcom.id/ Ilham Pratama Putra.

Penyuap Kejati DKI Jakarta Dituntut 4,5 Tahun Penjara

Nasional kasus suap
Ilham Pratama Putra • 19 November 2019 01:11
Jakarta: Pemilik Chaze Trade Ltd, Sendy Pericho, dan pengacaranya Alfin Suherman jalani sidang tuntutan atas kasus suap kepada Mantan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Agus Winoto dan Jaksa Peneliti, Arih Wira Suranta.
 
Agus Winoto menerima Rp200 juta, sementara Arih Wira Suranta menerima Rp350 juta dari kedua terdakwa. Atas perbuatan terdakwa Sendy Pericho dan terdakwa Alfin Suherman, Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjatuhkan pidana terhadap keduanya.
 
"Terdakwa I, Sendy Pericho berupa pidana penjara selama empat tahun enam bulan dan pidana denda sejumlah 250 juta rupiah," kata jaksa Asri Irwan, dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin 18 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika Sendy tak mampu membayar denda maka digangi dengan kurungan selama enam bulan penjara. Sementara terdakwa II, Alfin Suherman dikenakan pidana penjara selama tiga tahun dan denda pidana Rp200 juta subsider kurungan selama enam bulan.
 
Asri menjelaskan hal yang memberatkan tuntutan kedua terdakwa ialah tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Serta, khusus terdakwa I, Sendy Pericho tidak mengakui perbuatannya.
 
Sedangkan hal yang meringankan, kedua terdakwa bersikap sopan di persidangan dan memiliki tanggungan keluarga. Khusus terdakwa II, Alfin Suherman telah mengembalikan uang sebesar USD40.000.
 
"Terdakwa II, Alfin Suherman ditetapkan sebagai pelaku yang bekerja sama atau justice collaborator," lanjut Asri menjelaskan hal yang meringankan tutuntuan.
 
Kasus ini bermula saat Sendy, Hary, dan Raymond Rawung ingin mendirikan perusahaan Chaze Trade yang berlokasi di Jakarta Pusat pada Maret 2013. Pada Agustus 2013 perusahaan itu merugi karena Raymond terjerat masalah hukum.
 
Sendy melaporkan Hary dan Raymond ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan dana operasional perusahaan senilai Rp2,2 miliar dan USD964,3. Hary dan Raymond kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
 
Awal 2019, berkas keduanya dilimpahkan ke Kejati DKI. Alfin Suherman menemui Yuniar agar kasus berkas Hary dkk menjadi perhatian Agus Winoto.
 
Pada Februari 2019, berkas Hary dkk telah memenuhi unsur, tetapi tidak lengkap. Mengetahui hal itu, Sendy maupun Alfin mengguyur Arih Wira Suranta selaku jaksa peneliti sebanyak Rp350 juta agar berkas dinyatakan lengkap atau P-21.
 
Setelah dinyatakan P-21, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menyetujui rentut adalah dua tahun. Namun, Alfin menyatakan tuntutan itu masih terlalu tinggi.
 
Alfin menyatakan kepada Yuniar bila para pihak menyetujui adanya perdamaian. Yuniar kemudian dijanjikan Rp200 juta dari Sendy agar perkara Hary dkk cepat selesai.
 
Pada Juni 2019, Sendy melalui perantara Ruskian Suherman kemudian menyerahkan Rp200 juta dalam kantong plastik hitam itu kepada Yadi Herdianto. Yadi kemudian mengantarkan uang itu ke Agus dan Yuniar di Kejati DKI.
 
Agus mengeluarkan Rp50 juta dan menyimpannya ke dalam filling cabinet beserta surat perdamaian para pihak berperkara tersebut. Sementara itu, Rp150 juta dikantongi Agus.
 
Dalam perkara ini Sendy dan Alfin dinyatakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif