Dirut Jasa Marga Desi Arryani mangkir dari panggilan KPK. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Dirut Jasa Marga Desi Arryani mangkir dari panggilan KPK. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

Pemanggilan Ketiga, KPK Minta Dirut Jasa Marga Kooperatif

Nasional jasa marga
Kautsar Widya Prabowo • 20 November 2019 03:00
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan melakukan pemanggilan ketiga terhadap Direktur Utama PT Jasa Marga Desi Arryani, pada Rabu, 20 November 2019. Pemanggilan terkait kapasitasnya sebagai mantan kepala Divisi III PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
 
"KPK kembali menegaskan bahwa saksi diharapkan kooperatif untuk memenuhi panggilan penyidik KPK esok hari," ujar Plt Kabid Humas KPK Yuyuk Andriyati, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 19 November 2019.
 
KPK ingin menghadirkan Desi sebagi saski untuk tersangka Kepala Divisi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk Fathor Rachman. KPK telah melakukan pemanggilan pertama pada Senin 28 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun yang bersangkutan tidak hadir lantaran ada tugas dinas di Semarang. Kemudian dijadwalkan pemanggilan kedua pada Senin, 11 November 2019, yang bersangkutan kembali tidak hadir.
 
Lembaga antirasuah kesal dengan sikap Desi yang dua kali mangkir. KPK mengadu
ke Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk dapat memenuhi panggilan KPK.
 
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan Kementerian BUMN sepenuhnya menghormati proses hukum. Menteri BUMN Erick Thohir pun kembali menyurati Desi untuk memenuhi panggilan pemeriksaan KPK.
 
"Kita sudah menyurati. Setelah KPK menyurati kita, kita menyurati Jasa Marga untuk secepatnya memenuhi panggilan KPK," kata Arya ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa, 19 November 2019.
 
Jika kembali mangkir, Arya menegaskan sepenuhnya menjadi wewenang lembaga hukum dan bukan lagi wewenang Kementerian BUMN.
 
"Kalau mangkir kan urusan hukum sudah, bukan urusan kita, masa kami bawa-bawa kan enggak mungkin," ungkap dia.
 
Kepala Divisi II PT Waskita Karya Fathor Rachman ditetapkan sebagai tersangka bersama mantan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar. Fathor Rachman dan Yuly Ariandi diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor melakukan pekerjaan fiktif pada 14 proyek PT Waskita Karya.
 
Ke-14 poyek itu tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, hingga Papua. Proyek yang sebenarnya telah dikerjakan perusahaan lain dibuat seolah-olah akan dikerjakan empat perusahaan yang telah teridentifikasi.
 
Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. Namun, PT Waskita Karya tetap melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut.
 
Setelah menerima pembayaran, perusahaan-perusahaan subkontraktor itu mengembalikan uang tersebut kepada sejumlah pihak. Termasuk, Fathor Rachman dan Yuly Ariandi.
 
Akibat perkara ini keuangan negara disinyalir mengalami kerugian hingga Rp186 miliar. Perhitungan tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.
 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif