KPK menahan Komisioner KPU Wahyu Setiawan di Rutan Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur, Jumat, 1 Januari 2020. Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
KPK menahan Komisioner KPU Wahyu Setiawan di Rutan Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur, Jumat, 1 Januari 2020. Foto: Antara/Dhemas Reviyanto

KPU Harus Berbenah Menghadapi Krisis Kepercayaan

Nasional kpu OTT KPK
Antara • 10 Januari 2020 13:36
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus berbenah untuk melewati masa sulit setelah operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Penyelenggara pemilu wajib bangkit untuk menghadapi krisis kepercayaan.
 
"Kita masih yakin banyak orang berintegritas dan baik di KPU. Mereka mampu menahan diri dari godaan suap dan perilaku jual beli suara yang sangat rawan terjadi pada jajaran anggota KPU di seluruh Indonesia," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Chaniago, di Jakarta, Jumat, 10 Januari 2020.
 
Menurut dia, KPU harus memperbaiki citra dan kinerjanya usai Wahyu jadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pangi mengingatkan bahwa kepercayaan publik sangat mahal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dosen ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan, kepercayaan publik diperlukan untuk memperkuat legitimasi KPU. Untuk itu, petinggi KPU harus menambal luka di hati masyarakat.
 
"Kalau KPU kehilangan trust (kepercayaan) dan legitimasi dari publik, maka hasil dari pemilihan kepala daerah sekarang juga bisa bermasalah legitimasinya karena prosesnya juga bermasalah," terang dia.
 
Ia menekankan penyelenggara pemilu yang bersih hal mutlak. Pasalnya, hanya dari proses yang bersih, pemimpin, kepala daerah, hingga presiden yang berintegritas tinggi dapat dilahirkan.
 
Wahyu menjadi tersangka usai terkena OTT KPK, Rabu, 8 Januari 2020. Dia diduga menerima suap untuk mengupayakan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR untuk calon legislatif (caleg) PDI Perjuangan Dawrah Pemilihan (Dapil) Sumatra Selatan, Harun Masiku.
 
Dalam OTT di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, KPK menyita uang senilai Rp400 juta dalam bentuk mata uang dolar Singapura. Sebelumnya, Wahyu juga diduga telah menerima suap Rp200 juta.
 
KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus itu. Wahyu Setiawan dan orang kepercayaannya sekaligus mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina.
 
Kader PDI Perjuangan Harun Masiku dan pihak swasta Saeful menjadi tersangka pemberi suap. Saeful diduga bekerja sebagai salah satu staf di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan.
 
Wahyu, Agustiani, dan Saeful telah ditahan KPK. Sementara itu, Harun masih diburu Lembaga Antirasuah. KPK meminta Harun segera menyerahkan diri.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif