Arifin Widjaja Bantah Ada Penipuan Jual Beli Tanah
Ilustrasi/Medcom.ID
Jakarta: Arifin Widjaja membantah telah melakukan penipuan dalam proses jual beli tanah seluas 53 hektare di Desa Kohod, Kabupten Tangerang, Banten. Dwi Laksono Setyowibowo, salah satu kuasa hukum Arifin Widjaja, menyatakan seluruh proses jual beli diketahui oleh pihak pembeli, yakni Hengki Lohanda.

"Sejak awal klien kami telah menyampaikan apa adanya tentang status tanah yang belum bersertifikat dan masih berupa akta jual beli, akta pengoperan hak, dan surat oper alih tanah," kata Dwi Laksono melalui surat yang diterima redaksi Medcom.ID, Rabu, 12 September 2018.

Sebelumnya, Hengki memerkarakan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Dia merasa ditipu atas penjualan tanah itu. Penyidik Subdit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bahkan sempat menetapkan Arifin sebagai tersangka. 


Arifin dituduh memalsukan surat dan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta jual beli. Penyidik juga menetapkan Ahmad Asnawi (Sam) dan Martianis sebagai tersangka.

Baca: Polda Metro Tetapkan Pengusaha Diskotek Tersangka Kasus Penipuan

Dwi Laksono melanjutkan, kliennya justru telah jujur menyatakan jika tanah yang akan dijual masih berstatus akta jual beli. Lantas, Sam dan Matrianis mencoba untuk mengurus tanah itu agar berstatus hak milik atau bersetifikat.

"Klien kami (Arifin Widjaja) justru tak mau ikut mengurus sertifikasi tanah tersebut karena membutuhkan waktu lama dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.

Dwi menambahkan tuduhan bahwa Arifin mengatur nomor identifikasi bidang (NIB) di dalam akta pengikatan jual beli tertanggal 27 Februari 2017 (PJB 52), juga tak benar. 

"Pencantuman itu justru atas permintaan Hengki (pembeli) untuk proses sertifikasi tanah," kata dia.

Justru, lanjut dia, Arifin tak pernah mengetahui pengurusan NIB tersebut. "Kan yang mengurus itu Sam berdasarkan surat yang dia tanda tangani pada 21 Februari 2017," kata Dwi.

Status tersangka dicabut

Dari sejumlah keterangan itu, Dwi menyatakan bahwa status tersangka Arifin sudah dicabut. Alasannya, proses penyidikan terhadap laporan soal penetapan tersangka Arifin tidak sah.

"Berkas laporan dan SPDP (surat pemberitahuan dimulainya penyidikan) 9457 telah dikembalikan ke Polda Metro Jaya dan sudah dicoret dari register perkara Kejaksaan Negeri Kota Tangerang," katanya. 

Pencabutan status tersangka, kata dia, diperkuat dengan tak adanya respon dan perkembangan penyidikan dari penyidik Polda Metro Jaya dalam kurun 30 hari.

(Berita ini sebagai Hak Jawab atas pemberitaan Medcom.ID dan medcom.id berjudul Polda Metro Tetapkan Pengusaha Diskotek Tersangka Kasus Penipuan yang terpublikasi pada 8 September 2018)




(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id