Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

Terorisme Berkedok Agama Ancaman Bagi Keutuhan Bangsa

Nasional terorisme
Candra Yuri Nuralam • 08 Mei 2019 10:20
Jakarta: Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menilai paham terorisme sudah mulai terang-terangan mencuci otak dengan dalih jihad di jalan agama. Embel-embel agama dalam terorisme membuatnya geram.
 
"Ini salah satu ancaman pola pikir paling nyata terhadap penistaan agama dan keutuhan bangsa," kata Ryamizard di gedung A.H Nasution Kementerian Pertahanan, Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Mei 2019.
 
Ryamizard mengambil contoh serangan Jaringan Ansharut Daulah (JAD) yang sudah berafiliasi dengan ISIS di Sibolga, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Di sana, seorang perempuan yang mempunyai anak nekat melakukan aksilone wolf dengan alasan berjihad.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tindakan seperti itu membuktikan paparan pencucian otak terorisme sudah semakin kuat di Indonesia. Padahal, ungkap dia, pelaku aslinya hanya bermain di belakang layar bukan mengeksekusi langsung.
 
"Ibu dan anak kecil itu lemah, jangan disuruh mati. Yang nyuruh lagi santai-santai aja dengan embel-embel masuk surga, masuk surga apaan? Ini jihad apa jihud?" ujarnya.
 
Baca juga:JAD Diduga akan Memanfaatkan Momen People Power
 
Mengimingi agama dalam paparan terorisme juga sangat tidak sesuai. Karenanya, Ryamizard meminta masyarakat tidak terpengaruh pemahaman semacam itu walaupun hanya sedikit.
 
"Islam yang sebenarnya adalah islam yang damai dan menjunjung tinggi demokrasi. Bukan bunuh diri. Tidak begitu," lanjut Ryamizard.
 
Menhan menegaskan, paham terorisme hanya menyebabkan seseorang menjadi budak dari aktor di belakang layar. Tidak ada ajaran agama mana pun yang membenarkan terorisme sebagai ibadah.
 
"ISIS ini sesama ISIS saja saling membunuh. Saya sampaikan di sini, ISIS itu bukan agama, itu organisasi senjata, bukan Islam sama sekali, kita dibodoh-bodohi, bahlul kalau bahasa Arab," tegas dia.
 
Untuk itu, Ryamizard meminta masyarakat jeli melihat gerak-gerik mencurigakan terkait terorisme di lingkungan sekitar. Masyarakat juga diminta jangan takut atau ragu melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitarnya.
 
"Kita harus melek, Babinsa, siapa pun yang melihat harus lapor kalau ada, kalau bisa kita jadi yang pertama," ucap Ryamizard.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif